Indonesia Power Protes PT BA

Indonesia Power Protes PT BA

- detikFinance
Senin, 16 Apr 2007 17:17 WIB
Jakarta - Indonesia Power (IP) rupanya gregetan dengan Perusahaan Tambang Bukit Asam (PT BA) sebagai pemasok batubara untuk pembangkit IP.Jika dulu IP menjadi prioritas untuk pasokan batubara yang dihasilkan PT BA, kini pasokan untuk IP mulai tersaingi oleh kontrak-kontrak ekspor PT BA.Direktur Pengembangan dan Niaga Indonesia Power Bambang Isti Eddy menyatakan pihaknya tidak mempermasalahkan kontrak ekspor PT BA. Namun seharusnya pelaksanaan ekspor itu menggunakan fasilitas tersendiri, agar tidak menganggu fasilitas untuk memasok PLTU Suralaya milik IP."Dari awal BA itu dibangun dedicated untuk Suralaya (PLTU). Tapi setelah IPO, produksinya jalan-jalan (dipasok kemana-mana). It's oke, tapi buatlah fasilitas tersendiri," ujar Bambang saat mengisi Indonesia Coalaboration 2007 di Hotel Sangri-la, Jakarta, Senin (16/4/2007).Bambang khawatir, jika fasilitas yang selama ini dibangun untuk memasok PLTU Suralaya sampai terhambat gara-gara harus memasok untuk ekspor dapat mengakibatkan pembangkit kehilangan bahan bakar dan tidak dapat beroperasi."Kalau nggak bisa kasih ke IP gimana? Listrik kan nggak boleh mati, itu vital!" tegas Bambang.Kebutuhan batubara Indonesia Power saat ini mencapai 11 juta ton per tahun. Sebagian besar dipasok oleh PTBA, terutama di PLTU Suralaya (3.400 MW) yang mendapat alokasi paling besar dari seluruh pasokan batubara IP.Namun dengan adanya proyek percepatan 10.000 MW dan IP mendapat jatah menangani 4.000 MW, maka kebutuhan batubaranya pun akan meningkat hingga 14 juta ton per tahun menjadi 25 juta ton per tahun."Tapi kalau untuk tambahan itu kan, langsung dari PLN," ujar Bambang.IPO DitundaSedangkan terkait IPO, IP memang menundanya. Menurut Bambang, kebutuhan dana untuk bangun pembangkit yang tadinya dicari melalui IPO ternyata sudah disediakan pemerintah lewat program 10.000 MW."Kita IPO kan untuk cari dana buat bangun pembangkit. Nah, sekarang kan sudah ada, jadi belum perlu," ucapnya. (lih/hdi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads