Reshuffle Kebijakan Juga Perlu
Selasa, 17 Apr 2007 17:52 WIB
Jakarta - Perombakan kabinet alias reshuffle harus diikuti dengan perubahan kebijakan. Jika tidak, maka reshuffle hanya akan menjadi kebijakan yang sia-sia."Kalau tidak ada kebijakan, menurut saya dari sudut ekonomi tidak akan ada pengaruhnya," ujar Ekonom Kepala Bank Mandiri Martin Panggabean, dalam Ringkasan Eksekutif Economic Outlook kuartal I 2007, di kantornya, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (17/4/2007).Menurut Martin, pemerintah harus serius dalam membuat komitmen untuk menggerakkan sektor-sektor unggulan yang ada seperti yang telah diumumkan oleh Kadin. "Sebagai ekonom, kami ingin melihat adanya komitmen, dan itu harus dibuktikan dalam bentuk undang-undang dan peraturan yang mendukung hal itu," ujarnya. Ditempat yang sama, Kepala Departemen Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor Rina Oktaviani berharap reshuffle kabinet tidak dilakukan karena kepentingan politis. "Jika program-program harus diperbaharui, maka akan makan waktu sampai 6 bulan dan berarti mulai dari awal lagi, ini tidak baik," ungkapnya. Rina menyarankan, jika ada menteri yang harus diganti, maka penggantinya harus dengan orang-orang yang ahli dan telah menguasai masalah yang ada. "Jadi yang ditunggu sebenarnya adalah masalah kebijakannya, harus yang reformis dan bagus, sebab akan sangat disayangkan jika hanya karena alasan politis saja," jelasnya.
(dnl/qom)











































