Efek Overheating Cina Sementara
Jumat, 20 Apr 2007 14:58 WIB
Jakarta - Dampak pemanasan (overheating) ekonomi Cina terhadap pasar saham regional dan ekonomi dunia, diyakini oleh otoritas moneter Bank Indonesia (BI) hanya bersifat sementara.Pengaruh overheating Cina ini telah melanda beberapa nilai tukar mata uang regional yang melemah pada kamis (19/4/2007) kemarin. Namum hari ini mata uang regional sudah kembali pada posisi fundamental semula.Demikian disampaikan Deputi Gubernur BI Aslim Tadjuddin, di Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (20/4/2007)."Overheating itukan hanya perkiraan analis, karena dikhawatirkan dampak Cina akan memperketat kebijakan moneternya, itu berarti akan menaikkan suku bunganya, dan ini memang dampaknya terasa sedikit di mata uang regional, seperti peso melemah, rupiah juga," ujar Aslim.Dilanjutkan Aslim, untuk nilai tukar rupiah hari ini akan bergerak relatif stabil, meski ada kecenderungan menguat. Untuk dolar Amerika Serikat (AS) hingga saat ini masih akan terus tertekan oleh mata uang lain, karena masih belum membaiknya fundamental perekonomian AS.Aslim menambahkan, dengan outlook (prospek) perekonomian yang positif rupiah akan tetap stabil di kisaran Rp 9.000-Rp 9.300 per dolar AS.
(hdi/ir)











































