Pertamina Diminta Ajukan Biaya Subsidi BBN ke Pemerintah
Selasa, 24 Apr 2007 15:40 WIB
Jakarta - PT Pertamina (persero) diminta segera mengajukan biaya subsidi bahan bakar nabati (BBN) ke pemerintah. Pertamina mengklaim sudah menanggung biaya pengembangan BBN hingga Rp 400 miliar. Hal ini disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam jumpa pers di kantornya hari ini Selasa (24/4/2007). "Pertamina mengkalim bahwa harga yang dibayarkan sampai Rp 400 miliar, dia minta itu bagian dari subsidi kita. Tapi resminya belum ada. Pertamina sudah menyatakan, tapi di media. Tolong masukan ke kita, supaya kita hitung," ujarnya. Purnomo melanjutkan, dengan masuknya pengajuan Pertamina soal BBN itu maka pihaknya bisa menghitung kerugian dan keuntungan mensubsidi BBN. Jika mensubsidi BBN dinilai beralasan kuat, maka akan diajukan ke Menkeu dan DPR. "Tapi kalau subsidi nabati justru membuat subsidi BBM membengkak, pasti sulit bagi kita untuk mengajukan," tambahnya. Jika ada BBN yang disubsidi, maka akan mengurangi volume BBM yang disubsidi. Konsekuensinya ada dua, bisa jadi lebih murah atau lebih mahal. Tergantung harga nabati yang digunakan. Misalkan biosolar, harga bahan baku nabati yaitu FAME (Fatty Accid Methyl Ester) sebesar 2,5 persen sedangkan solarnya berkurang jadi 97,5 persen. Begitu juga dengan biopremium yang kandungan etanolnya 2,5 persen. Untuk itu, pemerintah meminta Pertamina mengajukan proposal secara ringkas agar bisa dihitung. Selain itu, Purnomo menambahkan pemerintah tidak akan membatasi porsi BBN yang akan diekspor dan digunakan di dalam negeri. "Kita tidak membatasi, mau diekspor silakan, kalau untuk dalam negeri ada subsidi sebagai pioneer industry," ujarnya.
(lih/ddn)











































