Pertamina Tolak Buat PoD Baru Senoro-Tolli
Rabu, 25 Apr 2007 19:15 WIB
Jakarta - Meski diminta BP Migas, PT Pertamina tidak memerlukan PoD (plan of development) baru untuk pengembangan blok Senoro-Tolli di Sulawesi Tengah. Perubahan alokasi gas dijamin tidak signifikan sehingga harus merubah PoD.Wakil Dirut Pertamina Iin Arifin Takhyan menyatakan perubahan tersebut tidak akan merugikan pihak-pihak yang sudah berkontrak jual beli gas dari blok Senoro."Tidak perlu perubahan PoD, karena memang tidak ada perubahan peruntukkan gas yang signifikan. Kami jamin pasokan gas untuk domestik dari Senoro, sehingga tidak akan ada dispute (tidak terpenuhinya kontrak) di kemudian hari," ujarnya di Jakarta, Rabu (25/4/2007).Ia mengakui pihaknya sudah menandatangani MoU pembelian gas dengan perusahaan daerah setempat untuk listrik domestik. Hal itu juga tercantum dalam PoD blok Senoro sebelumnya.Namun kemudian ada rencana mengalokasikan gas dari Blok Senoro untuk Kilang LNG yang berkapasitas 2 juta ton/tahun. Alokasi gas tersebut mencapai 1,5 bcf dari cadangan gas yang ada sebesar 1,8 bcf. Namun Iin tetap bersikukuh bahwa volume yang disepakati itu kecil sehingga tidak terlalu signifikan. "Masih terdapat sekitar 0,3 bcf yang bisa dialokasikan untuk domestik, jadi tidak perlu khawatir," tegasnya. Sementara itu, Deputi Perencanaan BP Migas Achmad Lutfi mengatakan pihaknya khawatir akan terjadinya dispute apabila terjadi perubahan peruntukkan gas lapangan Senoro dari listrik menjadi LNG. "Kalau nantinya dispute, itu bukan urusan kami, kalau memang masalah dengan pembeli selesai, ya POD tidak perlu berubah," katanya. Menurut Lutfi, perubahan POD diperlukan apabila prinsip pengembangan blok Senoro berubah total. "Kalau memang dijanjikan domestik dipenuhi atau pengembangan lapangannya secara prinsip tidak berubah ya tidak perlu perubahan POD," tegasnya. Blok Senoro dimiliki secara patungan antara Pertamina dan Medco Energi. Produksi gas blok Senoro akan dijual ke kilang LNG Senoro yang dimiliki Mitsubishi-Jepang, Pertamina, dan Medco dengan kepemilikan masing-masing 60 persen, 20 persen, dan 20 persen. Saat ini memang tengah dibahas harga jual gas dari Blok Senoro ke Kilang LNG. Iin menyatakan, harga yang disepakati menggunakan sistem batas bawah (floor price). "Harga ada rumusnya, ada floor price. Floornya sudah ada, tapi tidak bisa disclosed," ujarnya.
(lih/ddn)











































