PGN Pindahkan Terminal LNG dari Situbondo ke Gresik
Kamis, 26 Apr 2007 16:27 WIB
Jakarta - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) berencana memindahkan pembangunan terminal penerima (receiving terminal) LNG dari Situbondo ke Gresik atau Tuban Pemindahaan ini terpaksa dilakukan karena jika terminal dibangun di Situbondo, maka pipa penyaluran gas harus melewati Porong. Sedangkan pipa di Porong saat ini sudah 2 kali tidak bisa beroperasi gara-gara lumpur Lapindo. Hal tersebut disampaikan Direktur Pengembangan PGN Adil Abas di sela-sela 3rd Asean +3 Natural Gas Dialogue, di Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (26/4/2007). "Sejak ada masalah terputusnya aliran gas disana kita lagi evaluasi apakah mungkin tetap di Situbondo," ujarnya. Terminal penerima LNG dengan kapasitas 2-3 metrik ton/tahun ini diperkirakan akan dipindah ke sekitar Gresik atau Tuban. Saat ini Adil menambahkan, pihaknya tengah mengkaji relokasi tersebut. DIharapkan September tahun ini kajian tersebut sudah bisa diselesaikan dan bisa beroperasi pada 2011. Kajian yang tengah dibahas antara lain soal teknologi yang akan digunakan. "Masalah teknologinya kita harus milih, teknologinya ada tiga, floating, gravity (sementara/bisa dipindah-pindah), dan permanen. Karena semua punya keuntungan dan kelemahan," ujarnya. Teknologi gravity misalnya, walau bisa dipindah-pindah, namun biayanya sangat besar. Sedangkan yang permanen terkendala masalah kebutuhan lahan yang luas untuk pembangun. Sementara terapung sampai sekarang belum cukup teruji. Selain teknolgi, masalah pasokan gas juga menjadi hal penting yang dikaji. Saat ini, PGN sudah bernegosiasi dengan operator Tangguh dan Blok Cepu untuk pasokan LNG. Bahkan, PGN sudah menjajaki pasar luar negeri untuk berjaga-jaga kalau produksi dalam negeri tidak mencukupi dan menghindari ketidakpastian produksi Blok Cepu. "Blok Cepu sampai saat ini kepastian produksinya masih belum jelas," katanya. Sedangkan terkait harga gasnya nanti, diperkirakan akan lebih mahal dari harga gas PGN sekarang. Harga keekonomian gasnya bisa mencapai US$ 7 /mmbtu, sedangkan harga saat ini US$ 5/mmbtu. Namun Adil optimis harga itu masih bisa terserap pasar Jawa Timur. " Pada 2012 nanti US$ 7 bisa masuk, keekonomiannya akan lebih dari US$ 7," ujarnya.
(lih/ddn)











































