RI Tawarkan Investasi CBM
Kamis, 26 Apr 2007 18:42 WIB
Jakarta - Pemerintah menawarkan negara pengimpor gas untuk berinvestasi di pengembangan CBM (coal bed methane) di Indonesia. Tawaran ini terutama diberikan bagi negara pengimpor gas yang tergabung dalam ASEAN+3, yakni negara ASEAN plus Cina, Korea dan Jepang.Hal ini disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam sambutannyamenutup 3rd Asean +3 Natural Gas Dialogue di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis(26/4/2007).Pemerintah memang berencana mengembangkan CBM untuk memenuhi kebutuhan gas dalam negeri. Sehingga RI akan memiliki sisa gas untuk diekspor.Namun pengembangan cadangan CBM yang mencapai 400 miliar kaki kubik (tcf) itu tak murah. Karena itu, pemerintah mengundang investor yang berkepentingan untuk ikut mengembangkan CBM, sehingga kebutuhan gas domestik terpenuhi."Kalau kita bisa mengembangkan 400 tcf itu sehingga bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, maka kita bisa mengekspor kelebihan gas ke negara-negara ASEAN+3," ujarnya.Salah satu negara-negara Asean +3 yang ngebet memperpanjang impor gas dari Indonesia adalah Jepang. Hal ini karena Jepang sangat membutuhkan keamanan energi untuk jangka waktu panjang.CBM dikhususkan untuk dalam negeri karena kandungan metananya lebih dari 90 persen. Komposisi tersebut membuat CBM sangat baik untuk pembakaran, termasuk untuk bahan bakar pembangkit listrik."Karena tidak ada gas basahnya, baik untuk pembangkit listrik dan metanol sehingga baik untuk dalam negeri," kata Purnomo.Terkait pengembangan CBM, Dirjen Migas Departemen ESDM Luluk Sumiarso menyatakan hingga saat ini terdapat 3 usulan joint study yang sudah masuk ke pemerintah.Ketiga usulan itu berlokasi diantaranya di Sumatera Selatan dan Kalimantan. Proses penawaran area pengembangan CBM akan seperti penawaran wilayah kerja migas yaitu melalui penawaran langsung (direct offer) dan tender (open tender).Jika melalui mekanisme direct offer, data-data seismik berasal dari pengaju usulan. Sedangkan dalam open tender, data-data seismik berasal dari pemerintah.Mengenai pembentukkan kartel gas, Purnomo menyatakan tidak perlu dibentuk tahun ini. Karena setiap negara produsen gas memiliki karakteristik daerah dan pasar sendiri-sendiri."Setiap region memiliki karakteristik masing-masing. Dan pasar yang spesifik. Pasar timur jauh berbeda dengan pasar Asean, Asean +3, Amerika Utara, dan Eropa. OPEC gas tidak bisa dikartel, tidak sepenuhnya liberalisasi. Sehingga, OPEC gas tidak perlu dibentuk tahun ini," ujarnya.
(ard/ddn)











































