Penggelontoran Minyak Goreng Tidak Efektif Turunkan Harga
Minggu, 29 Apr 2007 14:50 WIB
Jakarta -
Minyak goreng di pasaran melonjak, dari Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kg menjadi di atas Rp 7.000/kg. Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI) berniat membanjiri Jawa dengan minyak goreng untuk menurunkan harga.Namun langkah ini dinilai tidak efektif. Penilaian ini disampaikan Ketua Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Thomas Darmawan pada detikcom, Minggu (29/4/2007).Harga internasional yang sangat tinggi dianggap lebih berpengaruh. Karena dengan begitu banyak petani sawit yang lebih tertarik mengekspor kelapa sawitnya ketimbang menjual di dalam negeri."Tidak terlalu efektif, karena harga internasionalnya memang sedang tinggi. Pengusaha kan mana mau tahu,"ujarnya.Saat ini harga bahan baku minyak goreng, crude palm Oil (CPO), di pasar internasional memang sedang sangat tinggi, mencapai sekitar US$ 700 per ton. Jadi, walau produksi tandan buah segar (TBS) CPO sedang menurun gara-gara kemarau, ekspor terus mengalir. Derasnya ekspor ini membuat stok CPO dalam negeri jadi seret.Thomas menambahkan, untuk menurunkan harga minyak goreng, perlu tindakan tegas dari pemerintah."Tergantung pemerintah, karena minyak goreng kan tergantung CPO. Kalau tidak ada tindakan, harga bisa naik terus,"ujarnya.
(lih/nrl)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































