Wolfowitz Serang Balik 'Musuhnya'
Selasa, 01 Mei 2007 08:31 WIB
Washington - Setelah minta maaf dan berdiam diri cukup lama, Presiden Bank Dunia Paul Wolfowitz melancarkan serangan balik terhadap para pengritiknya. Dalam surat pernyataan 7 lembar yang diajukan kepada sebuah panel khusus yang menemuinya hari Senin (30/4/2007) waktu AS, Wolfowitz menyentil komite etik dan para anggota Dewan Direktur Bank Dunia."Para direktur yang sekarang yang mengkritik saya dan menilai tindakan saya tidak pantas telah bersikap tidak adil dan munafik," ujar Wolfowitz dalam pernyataan tertulis yang dimuat sejumlah harian terkenal Amerika seperti the Washington Post dan the New York Times.Sebagaimana dilaporkan koresponden detikcom di Washington DC, Endang Isnani Saptorini, Wolfowitz tersandung skandal penyalahgunaan wewenang karena ikut campur dalam kenaikan gaji pacarnya Shaha Riza. Riza adalah mantan pegawai senior Bank Dunia yang kini bekerja di lingkungan Departemen Luar negeri AS. Wolfowitz yang mulai menjabat Presiden bank Dunia tahun 2005 memerintahkan kenaikan US$ 60 ribu untuk gaji Shaha Riza, sebelum pacarnya ini dipinjamkan ke Deplu AS untuk menghindari konflik kepentingan.Tindakan Wolfowitz ini dinilai para pengritiknya sebagai bentuk korupsi jabatan dan menuntut mantan wakil menteri Pertahanan AS ini untul lengser jabatan. Dewan Direktur Bank Dunia yang mewakili 185 negara anggota membentuk panel khusus untuk menyelidiki kasus ini sebelum menentukan apakah Wolfowitz harus mundur atau tidak.Dalam surat pernyataan itu Wolfowitz menegaskan kembali bahwa apa yang dilakukannya sesuai dengan petunjuk komite etik Bank Dunia dan skandal ini merupakan bagian dari upaya merongrong jabatannya. "Tujuan dari kampanye fitnah ini untuk menunjukkan bahwa saya bukan pemimpin yang efektif dan saya harus turun jabatan, padahal tuduhan pelanggaran etik itu tidak beralasan," tandas mantan Duta Besar AS untuk Indonesia ini.Wolfowitz percaya bahwa ia masih mampu memimpin Bank Dunia. Namun begitu nasib Wolfowitz berada di tangan dewan direktur Bank Dunia yang akan membahas skandal tersebut waktu dekat ini.
(eis/ir)











































