Akuisisi Dipasena, CP Prima Perbanyak Amunisi
Rabu, 09 Mei 2007 10:28 WIB
Jakarta - Guna memuluskan rencana akuisisinya terhadap perusahaan tambak udang modern PT Dipasena Citra Darmaja (Dipasena) yang kini ditangani PT Perusahaan Penglola Aset (PPA), PT Central Proteinaprima (CP Prima) menyiapkan banyak-banyak amunisi.Setelah menunjuk dua penasihat keuangan Barclays Capital dan BNP Paribas, CP Prima juga menggandeng dua perusahaan konstruksi PT Truba Alam Manunggal Engeneering Tbk dan PT Wijaya Karya (Persero) untuk menunjukkan keseriusannya membeli Dipasena. Truba Alam Manunggal dan Wijaya Karya akan melakukan uji tuntas teknis atas kebutuhan perbaikan atau penambahan infrastruktur Dipasena.Demikian disampaikan Direktur CP Prima, Mahar Sembiring dalam siaran persnya kepada detikFinance, Jakarta, Rabu (9/5/2007)."Kami yakin dengan keterlibatan kedua nama besar dalam bidang konstruksi ini, pengembangan Dipasena akan dapat terlaksana dengan hasil yang memuaskan," ujar Mahar.Sebelumnya Ketua Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) Shidiq Moeslim mengaku khawatir jika PPA menjatuhkan pilihan kepada CP Prima. MPN menuding CP Prima bisa melakukan monopoli pasar udang jika berhasil menguasai Dipasena karena saat ini telah memiliki tambak udang Bratasena.CP Prima memiliki Bratasena yang lokasinya berseberangan dengan Dipasena di Provinsi Lampung melalui PT Central Pertiwi Bahari (CPB) dengan mengelola 8.000 hektar.Namun menurut Corporate Communication Director PT CP Prima Rizal I Shahab, tudingan monopoli tersebut tidak beralasan karena sebagian besar dari hasil produksi itu tidak dijual di pasar lokal melainkan diekspor."Justru itu seharusnya dapat meningkatkan devisa," ujar Rizal.Menurut Rizal dalam mengelola Bratasena pihaknya menerapkan sistem mitra kerja kepada petambak plasma. Hal serupa juga akan diterapkan di Dipasena jika perusahaan memenangkan tendernya.Selain CP Prima, saat ini PPA dikabarkan telah menerima dua penawaran lainnya. Penawar tersebut adalah Konsorsium Laranda yang mengelola perusahaan pertambakan di Filipina dan kawasan Timur Tengah. Serta PT Kemila International Holding Co yang didukung Fund Asia. Fund Asia adalah perusahaan keuangan yang dimotori oleh pengusaha Robby Djohan dan Hendro Marto.
(hdi/ir)











































