Wapres: Tak Apa-apa Sawah Dijadikan Pabrik
Kamis, 10 Mei 2007 11:03 WIB
Jakarta - Wapres Jusuf Kalla mendukung pengalihan sawah menjadi pabrik. Alasannya, pabrik bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja ketimbang sawah.Pernyataan tersebut dilontarkan Kalla saat peringatan ulang tahun Bulog ke-40 di Gedung Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (10/5/2007).Kalla menjelaskan, dalam perjalanan sejarahnya, Indonesia hanya 1-2 tahun tidak impor beras. "Ada dua alasan kenapa kita terpaksa impor beras. Pertambahan penduduk 1,5 persen per tahun dan yang kedua alih fungsi sawah mencapai 1,5 persen per tahunnya," jelas Kalla.Ditambahkan Kalla, dari 7 juta lahan sawah, kurang lebih 100 ribu hektar sawah beralih fungsi tiap tahunnya. Menurutnya, itu disebabkan karena pertumbuhan penduduk yang memerlukan rumah, pabrik dan jalan yang semuanya dibangun di atas lahan sawah."Itu tidak pernah jadi persoalan karena sawah itu maksimal hanya menyediakan lapangan kerja 4 orang per hektar. Sedangkan pabrik 200 orang per hektar. Jadi tidak apa-apa kita ubah. Karena kalau tidak, malah banyak orang yang menganggur," urainya.Untuk mengganti area sawah yang beralih fungsi menjadi pabrik itu, menurut Kalla harus dilakukan perluasan dan diversifikasi. Namun menurut Kalla, untuk perluasan butuh infrastruktur pengairan, yang justru selama masa krisis belum pernah dibuat. "Untuk memeliharanya saja kadang susah," tegasnya.Kalla menggarisbawahi, hal yang paling penting dilakukan saat ini adalah meningkatkan produktivitas pertanian dalam 5-7 tahun sehingga kebutuhan 34 juta ton beras per tahun dapat dipenuhi."Itu tugas kita semua, pemerintah dan para ahli. Itu bukan pekerjaan yang sulit. Negara lain sudah jalankan," ujarnya.Menurutnya, Indonesia saat ini harus memiliki stok beras hingga 2 juta ton. Jumlah ini diperoleh dari defisit beras 1 juta ton dalam stok pemerintah."Lalu untuk yang harus dijaga setidaknya stok 2 minggu, berarti jumlahnya 1,5 juta ton. Untuk lebih amannya, 2 juta ton. Itu yang harus terus menerus dijalankan. Karena kalau Indonesia ada masalah, Bulog yang mengeluarkan stok. Karena Indonesia negara kepulauan, harusnya stok Indonesia lebih tinggi," paparnya.Ia menambahkan, dengan pertambahan penduduk hingga 1,5 persen per tahun, maka produktivitas beras harus ditingkatkan sebesar 3 persen secara terus menerus.
(qom/ir)











































