Kalla: Kritikan Penting, Tapi Perut Rakyat Lebih Penting

Kalla: Kritikan Penting, Tapi Perut Rakyat Lebih Penting

- detikFinance
Kamis, 10 Mei 2007 12:25 WIB
Jakarta - Dalam perhitungan Jusuf Kalla, saat menjabat sebagai Menperindag dan Kepala Bulog, dirinya sudah 16 kali didemo terkait impor beras. Namun ia pantang mundur. Kebijakan impor beras terus dilaksanakan."Kritikan itu penting, tapi perut rakyat lebih penting. Itu yang pokok," cetus Wapres Jusuf Kalla yang disambut tawa para hadirin.Ia menyampaikan hal itu saat peringatan ulang tahun Bulog ke-40 di Gedung Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (10/5/2007).Kalla juga menyampaikan apresiasinya kepada mantan Dirut Bulog Widjanarko Puspoyo, yang dinilainya sangat kukuh meminta impor beras. Hal yang sama pernah dilakukannya saat menjabat sebagai Kepala Bulog."Saya waktu jadi Menperindag dan Bulog 16 kali didemo tentang impor beras, dan saya tidak peduli. Di DPR juga. Kemarin ini kita di-warning terus oleh Bulog, dalam hal ini saya apresiasi terhadap Widjan yang terus memohon ada impor," paparnya.Impor beras, lanjut Kalla, dinilai penting jika stok Bulog dibawah 1 juta dan harga sudah mencapai Rp 3.500/kg. Stok beras juga harus dijaga mengingat faktor cuaca di Indonesia yang sulit diprediksi. "Pawang itu hanya bisa menahan 1-2 jam, tapi tidak ada yang bisa menahan satu bulan. Itulah cuaca kita, maka kita harus hati-hati, stok Bulog harus lebih tinggi dari 1 juta," tambah Kalla yang disambut ger-geran para tamu.Hal penting lainnya, tegas Kalla, pemerintah harus menyampaikan kepada rakyat dan politisi bahwa impor beras itu normal dan bukan hal yang dibuat-buat. "Kita tidak boleh mainkan risiko hanya karena takut dikritik komisi VI, IV atau siapa saja. Untuk itu presiden telah menginstruksikan agar mengambil keputusan lebih awal sebelum terjadi masalah. Ini risiko negara terbuka," tambahnya.Di Asia Tenggara, terdapat empat negara yang selalu menjadi eksportir beras yakni Indonesia, Filipina, Malaysia dan Singapura. Khusus untuk Indonesia dan Filipina, jelas Kalla, impor beras dilakukan karena hal yang sama yakni cuaca. "Kita harus mendalami kenapa Thailand, Vietnam, Myanmar dan Kamboja bisa meningkatkan produksi beras dan menjaga kepentingan konsumen dengan menjaga harga beras sehingga tidak meningkatkan kemiskinan. Itu hal pokok yang kita jaga, selain menjaga keutuhan bangsa juga keutuhan pangan," urainya.Hal yang penting dilakukan, tegas Kalla, adalah memberi rangsangan kepada petani agar ketergantungan impor beras bisa dikurangi."Tidak ada negara yang 60 tahun merdeka masih antre beras. Cuma kita yang selalu antre beras," tandas Kalla. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads