JK: Pemerintah Tak akan Kolaps

Ribut-ribut Krisis Ekonomi

JK: Pemerintah Tak akan Kolaps

- detikFinance
Jumat, 11 Mei 2007 14:22 WIB
Jakarta - Derasnya dana asing yang masuk ke Indonesia saat ini diakui Wapres Jusuf Kalla mirip suasana tahun 1997. Namun kondisi ekonomi didalamnya berbeda dan tidak akan membuat pemerintah kolaps."Suasananya ya, artinya uang masuk. Tapi kondisi dalam negerinya beda. Zaman dulu kita cadangan devisa cuma US$ 20-an miliar. Dana asing keluar, ikut goyang. Sekarang kita punya US$ 55 miliar, tinggi. Jadi nggak akan goyangkan rupiah," kata Kalla di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (11/5/2007).Salahnya dulu, kata Kalla, dana yang masuk ketika itu ke sektor yang sangatkonsumtif dan pemerintah menjamin semua itu dan bank dijamin total."Sekarang aturannya bank itu tidak akan dijamin total pemerintah. Enggak seenaknya sekarang bank bebani anggaran. Enggak akan. Sekarang yang korban ya bank itu kalau ada apa-apa. Tidak pemerintah tidak akan kolaps. Pemerintah tak akan bailout membabi buta kayak dulu," jelas JK.Masuknya dana asing ini, seharusnya kata JK, dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk percepatan pembangunan. Kalla juga memaparkan, utang pemerintah saat ini sudah turun. Sebelum krisis utang Indonesia bisa mencapai 50 persen dari GDP, namun sekarang sudah turun 30 persen. Saat krisis ekspor sekitar US$ 40 miliar, kini mencapai US$ 100 miliar per tahun.Ditegaskan Kalla, dana yang masuk saat ini juga sebagian hasil ekspor bukan hanya sekedar dana asing uang masuk. "Jadi ini tidak timbulkan apa-apa, asal dimanfaatkan benar uang masuk itu. Kita lihat pengusaha juga bergerak, investasi jalan. Pemerintah pun tidak segegabah dulu untuk menjamin apa saja. Jadi enggak jadi soal bagi pemerintah," urai Kalla.Menurutnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal danaasing yang masuk itu. Apalagi memang dunia sedang tinggi likuiditasnya karena ekonomi bertumbuhkhususnya di negara-negara besar. "Di Timur Tengah over liquid, China juga cadangan devisanya US$ 1 triliun. Kemudian juga ekonomi Eropa. Kesimpulannya terjadi surplus likuiditas di banyak negara. Semua likuiditas itu masuknya ke negara-negara yang prospek ekonominya bagus. Masuknya ke India, Indonesia, ASEAN. Tidak mungkin masuk ke negara-negara yang prospeknya sulit kan," jelasnya.Prospek ekonomi Indonesia menurut Kalla, sedang bagus berdasarkan pandangan-pandangan investor dan para fund manager itu. Masuknya dana bisa dilihat dari berbagai indikator. Harga saham naik, masuknya dana ke SBI serta kuatnya rupiah."Artinya kan banyak dolar beli rupiah. Kurs menguat. Langkah selanjutnya memanfaatkan dana ini masuk ke sektor-sektor investasi yang lebih efektif dan jangka panjang. Dari sisi pemerintah, infrastruktur yang kita bicarakan. Swasta tentu, investasi seperti manufaktur," papar Kalla. (ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads