Gula Rafinasi Diminta Masuk Sektor Usaha Terbuka

Gula Rafinasi Diminta Masuk Sektor Usaha Terbuka

- detikFinance
Jumat, 11 Mei 2007 16:03 WIB
Jakarta - Pengusaha gula rafinasi yang tergabung dalam Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) sepakat dengan usulan Departemen Perindustrian (Depperin) yang menginginkan industri gula rafinasi dimasukkan dalam sektor investasi terbuka dengan syarat.Syaratnya yang harus diberikan adalah pendirian pabrik gula rafinasi yang harus memiliki lahan perkebunan tebu.Usulan ini terkait dengan akan dikeluarkannya daftar negatif investasi (DNI) dalam Perpres daftar sektor usaha yang tertutup dan terbuka. Perpres ini merupakan peraturan pelaksana UU Penanaman Modal. Pasalnya, selama ini bahan baku gula rafinasi yang berupa raw sugar hampir keseluruhannya impor."Kita setuju, bahwa investasi gula rafinasi terbuka dengan syarat, karena yang harus didahului produksi gula dalam negeri dan tebu," kata Ketua AGRI, Melvin Korompis dalam jumpa pers di restoran di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, Jumat (11/5/2007).Saat ini anggota AGRI hanya empat perusahaan yaitu PT Angels Product, PT Sentra Usahatama Jaya, PT Permata Dunia Sukses Utama, dan PT Jawamanis Rafinasi.Berdasarkan usulan Depperin, keempat anggota AGRI ini diwajibkan untuk mencari lahan."Kita sejak dua bulan lalu sudah diminta Menperin untuk membuka lahan perkebunan sehingga saat ini kita sedang mencari-cari. Menperin tanya mana komitmen Anda (untuk buka lahan)," ujar Melvin.Dia menjelaskan, hingga saat ini sudah ada 12 investor yang tertarik untuk berinvestasi gula rafinasi di Indonesia. Namun karena harga gula dunia yang saat ini sedang merosot, investor belum merealisasikan investasinya meskipun izinnya sudah di BKPM."Karena sekarang harga gula dunia US$ 280 per ton untuk raw sugar, padahal harga ideal untuk investor mau masuk berkisar US$ 320-340 per ton," tutur Melvin.Harga gula internasional yang terlalu rendah membuat investor wait and see, karena cost of production di Indonesia yang cukup tinggi," jelas Melvin.Saat ini produksi keempat perusahaan itu 1,5 juta ton per tahun. Padahal kebutuhan gula rafinasi ke industri makanan 2 juta ton per tahun. Hal inilah yang membuat industri makanan mengimpor sendiri gula rafinasi. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads