Menkeu Dinilai Timbulkan Kepanikan Yang Tak Perlu
Jumat, 11 Mei 2007 17:29 WIB
Jakarta - Ribut-ribut tentang bahaya krisis ekonomi dinilai sebagai kesalahan Menkeu Sri Mulyani. Menkeu dinilai menimbulkan kepanikan yang tidak perlu di pasar. "Sekali lagi kalau di negara maju, kesalahan seperti ini sudah berakibat pemberhentian sebagai menteri," kata anggota DPR Komisi XI Dradjad Wibowo ketika dihubungi wartawan, Jumat (11/5/2007).Meski menyalahkan pernyataan Menkeu, namun Dradjad mengakui bahwa situasi saat ini memang hampir mirip menjelang krisis mendera di tahun 1997. Roda sektor keuangan bergerak cepat luar biasa sementara sektor barang dan jasa relatif stagnan.Kekhawatiran akan terulangnya krisis ini sudah sering diungkapkan pengamat, namun pemerintah cenderung lebih mendengar pendapat dari lembaga internasional."Aset-aset keuangan terutama saham, obligasi dan rupiah sebenarnya sudah over-priced. Jadi yang dikatakan Menkeu benar. Sayangnya, kalau analisis ekonom domestik dianggap menakut-nakuti, sementara kalau yang analisis ADB, WB atau IMF dianggap benar. Padahal isinya sama," urainya.Yang harus dilakukan pemerintah sekarang adalah mengerem laju sektor keuangan yang dinilai terlalu cepat dan di sisi lain mempercepat sektor barang dan jasa. Jika tidak, maka krisis ekonomi jilid kedua akan terjadi lagi."Jika terjadi krisis lagi, dampak negatifnya akan lebih jelek dari krisis 1997. Ini karena aset aset yang ada sudah dijual semua kepada pihak asing," ujarnya.Nilai tukar rupiah yang ideal, lanjut Dradjad, saat ini adalah pada level Rp 9.000- Rp 9.100 per dolar AS."Ini yang ideal bagi importir dan eksportir. Dengan kurs yang over-priced sekarang, eksportir banyak dirugikan, daya saing produk Indonesia Indonesia juga bisa merosot secara tidak perlu," ujarnya.Dalam kesempatan coffee morning di Graha Sawala Depkeu, Kamis (10/5/2007), Sri Mulyani mengatakan bahwa kondisi perekonomian saat ini mirip dengan situasi menjelang krisis tahun 1997 yang ditandai dengan banjir capital inflow."Situasi akhir-akhir ini mirip dengan situasi menjelang krisis waktu itu dimana capital inflow banyak di Asia. Sebenarnya di seluruh dunia karena liquidity," ujar Sri Mulyani sebelumnya."Beberapa negara mengalami tekanan dari capital inflow yang menyebabkan apresiasi dari mata uangnya seperti di Thailand dan India," tambah Sri Mulyani.Namun pada kesempatan hari ini, Sri Mulyani meluruskan pernyataannya. Menurutnya, Indonesia tidak dalam situasi krisis. Ia juga berjanji akan memberi keterangan lengkap.
(ddn/qom)











































