Tim Ekonomi Tak Lapor Soal Kekhawatiran Krisis
Jumat, 11 Mei 2007 20:09 WIB
Jakarta -
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sore ini memanggil tim ekonomi. Kabar yang beredar, pemanggilan itu terkait dengan kekhawatiran tentang berulangnya krisis moneter.Namun Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah yang juga mengikuti pertemuan tersebut membantahnya. Menurut Burhanuddin, yang dilaporkan oleh tim ekonomi adalah mengenai optimisme perkembangan ekonomi."Yang terlaporkan (pada Presiden) bukanlah kekhawatiran menghadapi krisis, tapi optimisme yang muncul dari pertumbuhan ekonomi," tegas Burhanuddin di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (11/5/2007). Hadir dalam kesempatan tersebut Menko Perekonomian Boediono, Menkeu Sri Mulyani, Menteri Perdagangan Mari Pangestu dan Menteri Perindustrian Fahmi Idris.Ditempat yang sama, Sri Mulyani kembali mengulang bantahan tentang situasi sekarang yang sebelumnya dikatakan mirip dengan situasi menjelang krisis moneter tahun 1997 silam. Menurut Sri Mulyani, indikator yang ada justru menunjukkan kemajuan."Pemberitaan hari ini tidak menggambarkan secara utuh hasil pertemuan di Kyoto. Sama sekali tidak ada faktor domestik yang saya sebutkan seperti yang muncul sebagai pemberitaan," ujarnya.Burhanuddin Abdullah mengamini Sri Mulyani. Risiko krisis menurutnya jauh panggang dari pada api. Krisis menurutnya terjadi jika institusi ekonomi lemah, manajemen makro ekonomi buruk, dan nilai tukar Rupiah terkunci ke satu mata uang tertentu."Syarat ini tidak cukup untuk negara kita," kata Burhanuddin.Menurutnya, yang terjadi adalah makro ekonomi dan defisit fiskal dikelola dengan baik. Neraca pembayaran surplus rata-rata 2,2 persen dari GDP selama 6-7 tahun terakhir. Institusi ekonomi jauh lebih kuat dari pada masa krisis, dan fleksibilitas nilai tukar Rupiah cukup terjaga.
(fay/qom)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































