BI: Rupiah Kuat, Saatnya Eksportir Efisiensi
Senin, 21 Mei 2007 14:29 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengakui penguatan rupiah yang kini mencapai level 8.700-an per dolar AS membuat banyak eksportir mengeluh.Deputi Gubernur Senior BI Miranda Goeltom mengatakan penguatan rupiah ini justru memberikan kesempatan untuk eksportir melakukan efisiensi."Angka sekarang untuk importir comfortable, tapi untuk eksportir ini akan membuka kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki efisiensi. Saya memahami setiap ada penguatan rupiah pasti ada beberapa eksportir yang tidak menyukainya," kata Miranda dalam rapat dengan Komisi XI DPR, Senin (21/5/2007).Namun kata Miranda, beberapa ekspor komoditi memiliki konten impor yang tinggi, sehingga penguatan rupiah justru akan membuat biaya impor lebih murah. "Jadi kalaupun rupiah yang diterima lebih sedikit dari hasil ekspor, tapi karena rupiah yang dikeluarkan untuk impor lebih murah, buat mereka hampir sama," tutur Miranda.Penguatan rupiah lanjut Miranda, memperbaiki kemampuan para importir dan investor. Juga memperbaiki balance sheet dari perusahaan-perusahaan yang mempunyai utang luar negeri. "Dia juga akan memperbaiki dengan sendirinya inflasi, karena kalau harga-harga barang impor dan investasi lebih rendah, maka produksi kita harapkan jadi lebih murah sehingga harga turun," urai Miranda.
(ir/qom)











































