RI Gaet Jepang Bangun Pabrik Pencairan Batubara
Selasa, 22 Mei 2007 10:21 WIB
Jakarta - Pemerintah Indonesia akan bekerjasama dengan Jepang untuk membangun pabrik pencairan batubara. Langkah ini dilakukan untuk mencapai target energi mix tahun 2025, dengan kontribusi batubara cair harus mencapai 2%. Kepala Balitbang Departemen ESDM Nenny Sri Utami menyatakan, batubara cair ini akan digunakan untuk mengganti penggunaan minyak. "Ini akan menghasilkan minyal sintetis. Kualitasnya akan sama, jadi pemasarannya juga akan sama dengan oil fuel," ujarnya dalam Dialog Bisnis tentang pencairan batubara di Departemen ESDM, Jakarta, Selasa (22/5/2007) . Pada kesempatan ini juga ditandatangani MoU antara pemerintah dengan 12 pelaku usaha yang terkait. Diantaranya adalah Pertamina, Bukit Asam, Berau Coal, Adaro, dll. Sementara Jepang akan membantu dalam hal teknologi. Mereka akan membentuk konsorsium untuk mengerjakan proyek tahap pertama yang semi komersial. Pabrik akan dibangun disekitar Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan, yang memiliki banyak cadangan batubara. Dengan investasi sebesar US$ 1,3 miliar, akan dibangun pabrik berkapasitas 13.500 bph sebagai tahap pertama. Dalam dialog ini akan diputuskan siapa yang akan menanggung biaya tersebut. Rencananya, pabrik harus dibangun mulai 2009 dan diharapkan bisa beroperasi 2013.Setelah proyek berjalan sukses, maka setiap perusahaan baik yang ikut MoU ataupun yang tidak boleh membangun sendiri pabrik untuk dikomersialkan. Nenny juga menjelaskan, untuk mencapai 2% batubara cair di 2025, Indonesia akan membutuhkan 7 pabrik dengan kapasitas masing-masing 27.000 bph. Untuk memasok ketujuh pabrik itu akan dibutuhkan sekitar 35 juta ton batubara. Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menyatakan, jika Jepang bersedia membantu optimal, maka bisa meningkatkan produksi minyak nasional. "Dengan begitu, akan membantu memaksimalkan kemampuan ekspor kita," ujarnya dalam sambutan.
(lih/qom)











































