RI Masih Berpeluang Tembus Pasar Kulit Dunia
Selasa, 22 Mei 2007 13:18 WIB
Jakarta - Pangsa pasar produk kulit Indonesia di dunia saat ini baru mencapai 0,3 persen. Karenanya, perajin kulit Indonesia masih memiliki peluang untuk bersaing dengan perajin negara lain.Hal tersebut disampaikan Dirjen Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian Sakri Widianto di sela-sela pameran penjualan kulit dan produk kulit di Kantor Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (22/5/2007).Pangsa pasar kulit dunia pada tahun 2006 mencapai US$ 17,08 miliar. Italia memiliki pangsa terbesar yakni 40 persen, disusul Inggris 30 persen dan Jerman 20 persen.Pemerintah Indonesia kini sedang mendorong tumbuhnya industri kulit. Pengembangan bahan baku di sentra penyamakan kulit saat ini tersebar di sejumlah wilayah seperti Sukaregang Garut, Yogyakarta, Magetan Jawa Timur,.Sementara sentra produk kulit seperti sentra sepatu dikembangkan di Mojokerto, Pulo Gadung, Cibaduyut dan Magetan. Tas dan koper dikembangkan di Tanggulangin, Jawa Timur dan Tajur, Bogor. Sentra jaket kulit di Garut dan Bandung."Di luar Pulau Jawa seperti di Papua, Kalimantan Timur dan Sumatera Utara saat ini sentra produk kulitnya juga semakin berkembang, pada saat ini produksi bahan baku kulit samak adalah 72,5 juta kaki persegi, yang mencakup kulit samak sapi, kerbau, kambing, ular, buaya, dan kulit ikan," ujarnya.Produksi kulit di Indonesia saat ini mencapai 440 juta buah dengan nilai Rp 34,81 triliun. Sebagiannya diekspor dengan nilai mencapai US$ 152,9 juta. Negara tujuan favorit ekspor produk kulit antara lain Hongkong, Cina, Vietnam, Italia dan Thailand.Di Indonesia ada sekitar 146 perusahaan besar dan 18.421 perusahaan yang berkecimpung di produk kulit dengan menyerap 101.207 tenaga kerjaKetua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Suryani Sidik Motik mengatakan, saat ini ada 90 perajin kulit di Yogyakarta yang mati kutu karena kekurangan bahan baku.Akibatnya, posisi Indonesia yang pernah menjadi eksportir ketiga terbesar melorot pada tahun 2002 menjadi posisi keenam.Selain kekurangan bahan baku, industri juga sulit mencari kredit perbankan. "Bank masih sulit mengucurkan dana ke industri kulit terutama yang baru padahal track record kinerja keuangannya bagus dan memiliki kualitas yang bagus," ujarnya.
(ddn/qom)











































