Hindari Pailit, Merpati Prioritaskan Utang Unsecured
Kamis, 24 Mei 2007 09:42 WIB
Jakarta - PT Merpati Airlines Nusantara (MNA) yang kini terbelit masalah utang, berharap bisa segera memecahkan masalah kewajibannya itu pada tahun ini.Merpati yang memiliki utang Rp 1,8 triliun berharap bisa bernegosiasi dengan para kreditornya baik kepada bank maupun utang unsecured."Saat ini utang ke Bank Mandiri akan di-reschedule, Bank Danamon akan settle, begitu juga utang unsecured dan kepada sesama BUMN. Utang unsecured kita utamakan untuk menghindari pailit," kata Dirut Merpati, Hotasi Nababan saat berkunjung ke redaksi detikcom, Rabu (23/5/2007)."Utang unsecured ini kalau tidak diselesaikan bisa berpotensi dipailitkan. Tapi kita tidak mau seperti itu," lanjut Hotasi. Menurutnya, dari jumlah utang tersebut yang akan dinegosiasi mencapai Rp 800 miliar. Merpati yang berutang Rp 1,8 triliun saat ini hanya memiliki aset Rp 600 miliar. Merpati sendiri mendapat dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 450 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk revitalisasi armada Rp 150 miliar, restrukturisasi utang Rp 180 miliar dan biaya SDM Rp 120 miliar.Namun dana PMN ini sempat terhenti karena mencuatnya masalah sewa pesawat kepada lessor (perusahaan penyewaan) Thirdstone Aircraft Leasing Group (TALG) senilai US$ 1 juta. TALG belum mendatangkan dua jenis pesawat 737-400 dan 737-500 sesuai kontrak karena kesulitan mencari pesawat dan kalaupun ada biaya sewanya telah naik.Hotasi optimistis dengan dana PMN dan rencana privatisasi melalui mitra strategis bisa menyehatkan kembali Merpati."Sebenarnya pada tahun 2005 Merpati itu sudah bisa dikatakan mati, seperti halnya Bouraq. Kita dua kali terkena masalah besar pertama dibukanya liberalisasi tahun 2001 yang membuat tiket murah dan kedua dampak kasus WTC serta tingginya harga bahan bakar," ungkap Hotasi.Namun dengan melakukan beberapa upaya efisiensi, Merpati bisa bertahan dan kerugian yang dialami terus turun. Tahun 2007 ini kerugian ditaksir tinggal Rp 55 miliar dibanding 2006 yang sebesar Rp 123 miliar.Merpati juga melakukan restrukturisasi karyawan dengan mengurangi karyawan sejak tahun 2004 dari 4.100 karyawan menjadi 2.100 karyawan hingga akhir tahun ini.Merpati yang memiliki 15 pesawat jet dan 15 pesawat sewa mendominasi pangsa pasar di wilayah timur Indonesia. Kontribusi pasar di kawasan timur mencapai 70 persen dari pendapatan perseroan.
(ir/qom)











































