Gerabah Bantul Mulai Bangkit

Setahun Setelah Gempa

Gerabah Bantul Mulai Bangkit

- detikFinance
Kamis, 24 Mei 2007 15:12 WIB
Jakarta - Setahun setelah peristiwa gempa bumi, para pengrajin gerabah di Kabupaten Bantul mulai bangkit. Secara keseluruhan, pemulihan ekonomi di sektor industri kecil mencapai 65-75 persen. Geliat pulihnya perekonomian itu tampak di sentra-sentra kerajinan gerabah di Kasongan, Kasihan dan Panjangrejo, Pundong serta sentra industri kayu di Krebet Guwosari, Pajangan. Aktivitas para pengrajin di daerah itu mulai tampak, meski belum semua berproduksi.Saat detikfinance mengunjungi sentra gerabah di Kasongan dan Pundong, warga yang sebagian adalah korban gempa sudah mulai bekerja. Mereka sebagian besar mulai pengerjakan pesanan gerabah gerabah ukuran besar seperti pot/vas besar untuk dekorasi dan patung budha."Tiga bulan setelah gempa, semua sudah produksi meski tidak sampai 50 persen karena belum banyak pesanan," kata Margiyanto salah seorang pengrajin gerabah yang ditemui di rumahnya di Kasongan, Kamis (24/5/2007).Menurut dia, mulai awal tahun 2007 hingga saat ini kondisinya jauh lebih baik karena pesanan sudah mulai berdatangan. Beberapa pembeli dari dalam dan luar negeri terutama melalui Bali juga sudah mulai mengalir, meski belum sampai 100 persen penuh. "Sekarang ini hampir semua pengrajin sudah berproduksi lagi meski tidak sebanyak dulu karena keterbatasan alat dan tenaga," katanya.Dia mengatakan saat terjadi gempa selain rumah tinggal, hampir semua alat produksi juga ikut rusak seperti tungku dan alat putar gerabah. Namun 1-2 dua bulan setelah itu sudah ada bantuan peralatan dan modal seperti dari kementrian koperasi dan UKM, kementrian BUMN, perindustrian dan perdagangan dll."Semua pengrajin baik gerabah dan perkayuan dibantu peralatan," katanya. Ketika peralatan sudah ada kata dia, para pengrajin sempat kekurangan tenaga karena semua warga sibuk memperbaiki rumah masing-masing yang rusak. Adapula warga yang dulu bisa bekerja tapi tidak bisa bekerja lagi karena cacat. "Sebagian lagi beralih profesi menjadi buruh atau tukang bangunan," katanya. Menurut dia, sejak bulan Maret beberapa pesanan dari luar negeri seperti Australia dan Eropa melalui Bali sudah mulai ada. Beberapa pengrajin kecil dan besar mulai bekerja selama dua bulan ini mulai memenuhi pesanan agar tepat waktu. Dirinya juga mengaku tidak terlalu muluk-muluk memenuhi target jumlah pesanan para pembeli.Untuk membuat vas atau pot besar ukuran 50-100 cm mulai dari membuat adonan tanah liat, mencetak, mengerikan hingga membakar membutuhkan waktu satu sampai dua minggu. Selama satu minggu dengan kondisi cuaca panas mampu membuat 200-an pot dengan tenaga 5 orang. Untuk membakarnya butuh waktu dua hari. Selain itu juga tergantung kapasitas besar kecilnya tungku pembakaran. "Kalau kondisi seperti sekarang ini. Lebih baik sedikit demi sedikit tapi pesanan jalan terus dan tepat waktu. Lagipula gerabah yang akan diekspor juga harus tidak ada yang cacat sedikitpun," katanya.Ketika ditanya apakah perlu meminjam uang atau cari tambahan moda di bank swasta atau BPR, dia mengaku belum memikirkan untuk mencari pinjaman modal di bank seperti yang dilakukan beberapa tetangganya. "Kami menyesuaikan dengan tenaga dan modal yang ada. Kalau nambah modal dengan pinjam uang di bank nanti malah repot," katanya.Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Bantul, M. Yahya menambahkan pemulihan sektor usaha kecil terutama pengrajin gerabah dan kayu telah berhasil.Hingga pertengahan tahun ini atau setahun pesca gempa pemulihan ekonomi untuk industri kecil seperti gerabah sudah mencapai 75-an persen. Disperindagkop Bantul juga telah menyalurkan bantuan dari pemerintah pusat dan propinsi senilai Rp 8 miliar. Bantuan itu diserahkan pada tahun 2006, namun pelaksanaannya ada yang mundur tahun 2007. Bantuan itu belum termasuk bantuan dari departemen dan kementerian lainnya terutama bantuan alat produksi yang hancur."Kita berharap hingga pertengahan tahun ini ekspor kembali meningkat sampai Rp 2 miliar lebih," kata dia. (bgs/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads