TALG Belum Beri Jawaban ke Merpati Soal Dana US$ 1 Juta

TALG Belum Beri Jawaban ke Merpati Soal Dana US$ 1 Juta

- detikFinance
Sabtu, 26 Mei 2007 11:13 WIB
Jakarta - PT Merpati Nusantara Airlines masih belum mendapat jawaban dari perusahaan penyewaan (lessor) Thirdstone Aircraft Leasing Group (TALG) mengenai pengembalian dana US$ 1 juta yang semula diharapkan keluar akhir pekan ini.Merpati ngotot minta pengembalian dana tersebut yang merupakan uang muka untuk sewa dua pesawat Boeing 747-400 dan 747-500 karena TALG mengingkari kontraknya."Sampai sekarang belum ada perkembangan, kita masih akan menunggu sampai Senin atau Rabu pekan depan," kata Manager Corporate Communication, Corporate Secretary Divison PT Merpati Nusantara Airlines, Widodo Aryanto ketika dihubungi detikFinance, Sabtu (26/5/2007).Merpati dan TALG hingga kini masih melakukan negosiasi di luar pengadilan soal pengembalian dana tersebut. Namun jika deadlock maka kasus yang telah didaftarkan di Pengadilan Distrik Columbia, Washington DC dengan nomor kasus 1:2007cv00717 tertanggal 20 April 2007, akan menggelinding ke arena sidang."Kalaupun diselesaikan pengadilan ya lebih bagus karena yang wan prestasi TALG," ujar Widodo.TALG semula telah menandatangani kontrak untuk penyewaan pesawat Boeing 737-400 dan B737-500. Kontrak tersebut dengan harga sewa US$ 130 ribu sampai US$ 150 ribu per bulan. Dua pesawat ini harusnya sudah datang pada Januari atau Februari 2007.Namun hingga batas waktu tersebut TALG gagal mendatangkan dua pesawat tersebut karena pasokan kedua jenis itu minim akibat banyaknya peminat.TALG minta kenaikan harga sewa antara US$ 160 ribu sampai US$ 170 ribu per bulan karena pesawat yang dicari susah. Namun Merpati menolaknya karena tidak sesuai kontrak.Secara terpisah Pengamat hukum bisnis Ricardo Simanjuntak ketika dihubungi detikFinance, Sabtu (26/5/2007) menilai posisi Merpati dalam kasus ini sangat kuat. "Secara universal kontrak yang disepakati mengandung kekuatan hukum. Kontrak tidak dapat diubah secara sepihak kecuali disebutkan bisa dimungkinkan berubah," kata Ricardo.Ricardo menilai, TALG dalam posisi lemah sehingga mengulur-ngulur waktu negosiasi. Pasalnya perusahaan apapun di dunia jika telah dinyatakan bermasalah oleh pengadilan citranya akan jelek dan tidak dipercaya lagi."Apalagi pengadilan sekelas Distrik Columbia, Washington DC, ini akan jadi perhatian internasional," ujar Ricardo. (ir/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads