Pak Ogah Kok Dihitung Pekerja?

TIB Kritik BPS

Pak Ogah Kok Dihitung Pekerja?

- detikFinance
Senin, 28 Mei 2007 13:29 WIB
Jakarta - Akurasi data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam melakukan sensus kembali dipertanyakan. Misalnya mengenai turunnya angka pengangguran.Pengamat ekonomi yang tergabung dalam Tim Indonesia Bangkit (TIB) menilai BPS sengaja memperkecil angka pengangguran. Satu caranya adalah dengan menambahkan definisi pekerja bagi orang yang bekerja walaupun tidak digaji atau pendapatannya tidak mencukupi kebutuhan dasarnya.Misalnya Pak Ogah, orang yang sering membantu mobil saat memutar di jalan."Asalkan mereka bekerja dalam seminggu minimal satu jam maka mereka dikategorikan bekerja," ujar Hendri Saparini dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR, Senayan, Jakarta, Senin (28/5/2007).Saat ini tidak satu pun negara, selain Indonesia, yang menggunakan definisi menimal bekerja satu jam dalam seminggu sebagai ukuran bekerja.BPS menurut TIB juga memasukan kategori para pekerja, yakni istri anak, sepupu, yang membantu suatu usaha keluarga (Pekerja keluarga). Asalkan mereka bekerja satu jam selama seminggu maka mereka dikategorikan bekerja walaupun tidak dibayar."Jumlah pekerja keluarga sangat besar mencapai 17,8 juta, jika tenaga kerja yang tidak dibayar ini dikeluarkan dari angka orang bekerja maka pengangguran yang diklaim BPS akan meningkat dari 9,8 persen menjadi 26 persen," ujarnya.TIB juga menilai BPS kurang akurat dalm pengukuran inflasi. TIB menilai kerja BPS diintervensi pemerintah melalui Perpres No 11 tahun 2005. Dalam perpres itu, sebelum mengumumkan ke publik, BPS harus mengkonsultasikan terlebih dulu 5 indikator ekonomi ke menteri terkait. Yakni pertumbuhan ekonomi, pengangguran, kemiskinan, inflasi, dan perdagangan internasional atau ekspor impor. (ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads