Asia Timur Masuk Era Renaissance
Kamis, 31 Mei 2007 14:15 WIB
Jakarta - Setelah masa-masa gelap krisis ekonomi pada tahun 1997, negara di Asia Timur akan mencapai pencerahan atau renaissance ekonomi.Fakta-fakta sudah menunjukkan hal itu, yakni pertumbuhan produksi domestik pada tahun 2005 yang mencapai US$ 4 triliun. Sementara Nilai ekspor sebesar US$ 2 triliun atau seperlima dari total ekspor di dunia. Hal ini membuat Asia Timur menjadi salah satu pasar paling terbuka di dunia.Demikian disampaikan Homi Kharas, mantan ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik yang juga penulis buku 'An East Asian Renaissance' di Kantor CSIS, Jalan Tanah Abang III, Jakarta, Kamis (31/5/2007).Homi menulis buku itu didampingi Indermit Gill, pejabat sementara Ekonom Kepala Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik."Apa yang terjadi di Asia Timur adalah hal yang baru, sebuah renaissance. Potensinya ada, dengan Cina sebagai pemeran penting," ujarnya.Seperti renaissance di Eropa yang membuka ide baru dan pengembangan ekonomi, hal yang serupa kini terjadi di Asia Timur.Namun ada beberapa tantangan yaitu masalah urbanisasi. Pada 20 tahun mendatang 2 juta rakyat akan melakukan urbanisasi, sehingga berpotensi menimbulkan masalah baru."Pertumbuhan urbanisasi akan mencapai 3,6 persen di kawasan ini padahal rata-ratanya 2,5 persen. Nanti akan ada 80 juta penduduk yang tinggal di kota-kota besar," ujar Gill.Kawasan Asia Timur kini menjadi salah satu tujuan utama Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar dengan jumlah devisa senilai US$ 1,6 triliun.Khusus untuk Indonesia, mereka menyoroti kurangnya suplai produksi regional dan kurangnya jaringan dengan negara lain dalam memproduksi barang.Homi mencontohkan Thailand yang merupakan salah satu produsen hard drive komputer. Thailand menggunakan bahan baku yang diimpor dari negara lain, kemudian mereka rakit untuk dijadikan hard drive pada komputer-komputer yang dijual di Malaysia, Cina dan negara lain.
(ddn/qom)











































