HPE CPO Naik Lagi
Rabu, 06 Jun 2007 18:33 WIB
Jakarta - Harga patokan ekspor (HPE) untuk Crude palm Oil (CPO) untuk bulan Juni 2007 yang diterbitkan Departemen Perdagangan (Depdag) kembali naik. kenaikan HPE itu mencapai US$ 64 per ton menyusul semakin tingginya harga CPO internasional. Demikian isi Permendag No. 24/M-DAG/PER/6/2007 tentang penetapan HPE atas barang ekspor tertentu yang diperoleh detikFinance, rabu (6/6/2007). Peraturan itu ditandatangani Mendag Mari Elka Pangestu pada 5 Juni 2007 dan akan mulai berlaku 10 Juni 2007 sampai 9 Juli 2007. HPE ini akan digunakan sebagai dasar pungutan ekspor.Dengan peraturan tersebu HPE CPO bulan Juni naik menjadi US$ 622 per metrik ton (MT) dibanding bulan Mei sebesar US$ 558 per MT. HPE buah dan kernel kelapa sawit US$ 122 per MT dibanding bulan sebelumnya US$ 113 per MT. HPE crude olein bulan Juni US$ 669 per MT dari sebelumnya US$ 571 per MT, RBD PO menjadi US$ 652 per MT dibanding bulan lalu US$ 573 per MT dan RBD Olein US$ 676 per MT dari US$ 585 per MT.Semester II-2007 Harga CPO TurunSementara itu Ketua Harian Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Franky Widjaja mengatakan pihaknya memprediksi harga CPO internasional akan berangsur turun di level US$ 600 per ton pada semester II-2007. Saat ini harga CPO internasional masih diatas harga US$ 700 per ton.Penurunan harga tersebut akibat ekspektasi peningkatan produksi CPO di semester II-2007."Pada semester satu demand yang naik akan diimbangi kenaikan produksi apabila tidak terjadi hambatan cuaca seperti elnino. Karena biasanya semester satu produksi hanya 40-45 persen, sedangkan di semester dua produksi menjadi 55-60 persen. Sehingga itu akan menekan harga," ungkapnya.Namun Franky mengatakan harga CPO internasional tidak akan terjadi kalau pemerintah menaikan pungutan ekspor karena pasokan dari Indonesia menurun. Menurutnya apabila pada semester II-2007 harga CPO internasional tidak turun, masyarakat akan beralih ke penggunaan minyak kedelai sebagai pengganti CPO karena harganya yang lebih murah.Franky juga mengatakan pihak swasta meminta program stabilisasi harga (PSH) dilanjutkan dengan program Domestik Market Obligation (DMO) ketimbang kenaikan pungutan ekspor. Pihaknya juga meminta PSH dilanjutkan sampai Lebaran karena pada saat itu justru terjadi gejolak harga yang semakin tinggi.
(arn/ard)











































