Minyak Goreng OP 2 Jam Ludes Diserbu Warga Pekanbaru
Rabu, 13 Jun 2007 15:41 WIB
Pekanbaru -
Para pelaku usaha kecil dan ibu rumah tangga mengeluhkan melambungnya harga minyak goreng. Untuk menstabilkan harga, operasi pasar pun di gelar. Hanya hitungan dua jam, operasi pasar minyak goreng ludes diserbu warga. Pemerintah daerah Pekanbaru pada Rabu (13/6/2007) melakukan operi pasar minyak goreng yang melibatkan. Operasi pasar minyak goreng ini dilakukan di kawasan Pasar Pusat, Jl Agus salim, Pekanbaru. Operasi yang digelar pagi pukul 09.00 WIB hanya berlangsung dua jam. Seluruh minyak goreng harga subsidi ini sudah ludes diserbu warga. Toko Sembako, Tapian Nauli yang berada di pasar pusat itu, salah satu distributor yang ditunjuk Pemda dalam melaksanakan operasi pasar minyak goreng ini. Harga yang ditetapkan Pemda, hanya Rp 6.500/kg. Mereka mendapat jatah minyak goreng sebanyak 28 jeriken. Masing-masing jeriken berisikan 28 kg. "Hanya dua jam kami menggelar operasi sudah habis. Itu pun masih banyak warga complain ke kami. Masih banyak warga yang mengaku belum mendapatkan harga minyak goreng bersubsidi ini," terang Erwin S pemelik toko Tapian Nauli kepada detikFinance. Dari pantuan di lapangan, saat operasi di gelar, warga berjibun dan antre untuk mendapatkan harga minya yang relative lebih murah itu. Apa lagi kawasan Pasar Pusat merupakan warga yang sebagian besar menekuni usah rumah tangga dalam membuat kue. Itu sebabnya, operasi pasar minyak goreng ini terasa sangat membantu mereka. Ibu Nurmiati (53) salah seorang wearga yang menekuni usah jual kue menyebut, untuk usahanya membutuhkan minimal 10 kg per hari. Dalam waktu dua pekan terakhir ini, harga minyak goreng di pasar tradisional terus meningkat hingga mencapai Rp 9.000/kg. "Padahal sebelumnya harga minyak goreng hanya Rp 4.500/kg. Sekarang hargnya naik seratus persen. Harga minyak goreng telah membuat kami usaha kecil ini terancam bangkrut," kata Nurmiati. Menurutnya, harga minyak goreng yang terus melambung merupakan ancaman tersendiri buat usaha yang telah tekuni selama 20 tahun menjual kue basah. Satu sisi, untuk menaikan harga kue, hal itu tidak mungkin dilakukan. Karena para pemilik kios di pasar sebagai tempat penitipan kue tidak bersedia menjualnya bila harga kue turut merangkak naik. "Sebelum harga minyak goreng naik, saya bisa berpenghasilan minimal Rp80 ribu per harinya. Sekarang ini, untung jual paling banyak cuma Rp15 ribu per hari, itu pun kalau laku semunya," kata Nurmiati. Keluhan yang sama juga diungkapkan Ibu Mariani salah seorang warga di Pekanbaru. Harga minyak goreng ditingkat pengecer bisa mencapai Rp10 ribu/kg. "Kalau kita beli di pasar tradisional harganya paling mahal Rp 9.000/kg. Tapi kalau beli di kedai kecil, hargnya bisa Rp 10 ribu/kg," kata Mariani.
(cha/qom)










































