OP Minyak Goreng Belum Sentuh Aceh, Harga Melambung
Kamis, 14 Jun 2007 10:33 WIB
Banda Aceh - Harga minyak goreng di daerah terus melambung tak terkendali. Misalnya saja di sejumlah pasar di Banda Aceh. Sampai hari ini, para pedagang menjual minyak goreng antara Rp 9.000/kg sampai Rp 10.000/kg. Meski demikian, Dinas Perdagangan dan Industri (Disperindag) NAD tetap belum bisa melaksanakan Operasi Pasar (OP) khusus. Pasalnya, hingga saat ini belum ada distributor minyak goreng di Aceh, karena tidak adanya pabrik minyak goreng seperti halnya di provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. "Kami belum bisa melaksanakan OP khusus jika tidak ada distributor yang ditunjuk oleh Asosiasi Produsen Minyak Goreng," jelas Kepala Dinas Perindag NAD, Ir H Muzakkir Ismail kepada wartawan, Kamis (14/07/2007) Ditambahkannya, meski kenaikan harga minyak goreng ini tidak hanya terjadi di Aceh, tapi persoalan di Aceh, tidak adanya pabrik minyak goreng karena Aceh menjual CPO ke luar. "Hal ini mengakibatkan kita sangat tergantung dengan Medan. Sedangkan situasi sekarang ini, di Medan juga kekurangan stok minyak goreng, mereka sendiri saja tidak cukup," ungkapnya sembari menambahkan bahwa stok minyak goreng saat ini sangat menipis. Untuk menstabilkan harga minyak goreng di pasar, lanjut dia, Disperindag NAD juga telah menyurati Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Departemen Perdagangan (Depdag) RI sebagai balasan surat yang dikirimkan oleh Dirjen tersebut No 237.PDN.5/2007 tanggal 2007. Dalam surat tersebut, Kepala Dinas Perindag NAD meminta kepada Dirjen PDN Depdag untuk dapat memfasilitasi asosiasi produsen minyak goreng agar dapat menunjuk distributor atau pengusaha yang berdomisili di Provinsi Aceh sebagai distributor resmi.Distributor itu selanjutnya akan menyalurkan minyak goreng dan melaksanakan operasi pasar dalam rangka Program Stabilisasi Harga (PSH) minyak goreng.
(ray/qom)











































