Beras Rusak, RI Protes Thailand
Kamis, 14 Jun 2007 15:54 WIB
Jakarta -
Beras impor yang dikirim dari Thailand ternyata tidak sesuai spesifikasi pesanan Indonesia. Perum Bulog pun mengirimkan surat protes dan mengajukan penalti ke pemerintah Thailand.Protes dilayangkan kepada pemerintah Thailand mengingat pengadaan beras impor ini dilakukan melalui mekanisme government to government alias g to g."Beras Thailand memang ada masalah, kita complain kesana. Seharusnya broken-nya 15 persen, tapi yang dikirim 20 persen karena ini keliru, tentu ada implikasi sanksi dengan penalti sesuai kontrak," ujar Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar dikantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (14/6/2007).Ia menambahkan, akibat beras yang tidak sesuai pesanan itu, Bulog menderita kerugian hingga Rp 1,4 miliar. Perhitungannya adalah beras yang rusak sebanyak 5 persen dari total beras impor sebanyak 14 ribu ton melalui 2 pengapalan. Total kontrak impor beras Bulog dengan Thailand sebesar 200 ribu ton dengan harga US$ 308 per ton (harga FoB).Mustafa menjelaskan, beras-beras yang rusak itu sebagian sudah masuk ke Jakarta dan Surabaya. Beras-beras yang rusak itu selanjutnya akan ditarik untuk kemudian ditingkatkan kualitasnya menjadi broken 15 persen. Pengolahannya akan dilakukan dalam negeri. Namun menurut Mustafa, biaya pemrosesan ulang maupun biaya pengadaan beras tambahan sedang dikaji oleh direktur operasional Bulog. Sehingga angka penalti Bulog belum bisa didapat. "Kita belum memutuskan apakah akan membatalkan kontrak. Sementara kita dengan Thailand jalan terus agar mereka memperbaiki apa yang kurang baik dari mekanisme dan kualitasnya," ujarnya.Untuk membahas masalah penalti ini, Wakil Mendag Thailand akan datang ke Indonesia pada 2-3 Juli. "Dalam pertemuan ini kita akan menentukan langkah kedepan apakah akan dihentikan atau diteruskan. Kita juga melihat kesanggupan mereka untuk memperbaiki dan mengganti klaim kita," tandas Mustafa.
(qom/ir)










































