Karyawan BUMN Pura-pura Sakit Biar Bisa ke Luar Negeri
Jumat, 15 Jun 2007 16:55 WIB
Jakarta -
Besarnya biaya pengobatan untuk karyawan BUMN bisa mengundang niat yang tidak baik. Misalnya saja dengan berpura-pura sakit agar bisa pergi ke luar negeri."Kadang-kadang hanya pilek saja mereka berobat ke Singapura, nanti di sana mereka ternyata hanya jalan-jalan, ini kan penyalahgunaan anggaran," ujar Sekretaris Menneg BUMN Said Didu kepada wartawan dikantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (15/6/2007)."Ada juga yang mau arisan bareng-bareng di luar negeri, mereka sakit bareng-bareng keluar negeri. Jadi semua biayanya ditanggung oleh BUMN tersebut. Bahkan anak-anaknya yang ikut ditanggung juga biayanya," kritik Said. Said menjelaskan, selama ini biaya pengobatan karyawan BUMN cukup tinggi sehingga tidak efisien. Biaya pengobatan karyawan BUMN jauh melebihi PNS."Biaya rumah sakit per orang di BUMN adalah sebesar Rp 500 ribu hingga Rp 4 jutaan per tahun, sementara Pegawai Negeri Sipil hanya Rp 120 ribu per tahun kan. Ini perbedaannya jauh sekali dan pemborosan," urai Said tanpa merinci lebih lanjut.Dia mengatakan bahwa biaya rumah sakit untuk karyawan BUMN ini seringkali disalahgunakan oleh orang yang bersangkutan. Untuk menekan biaya pengobatan, BUMN yang tadinya memiliki rumah sakit bisa menggunakan jasa asuransi kesehatan. "Perusahaan tinggal membayar premi bulanan saja untuk karyawannya, nanti perusahaan asuransi inilah yang mengawasi pengobatan karyawan BUMN, mereka bisa bekerja sama dengan Askes," jelasnya.
(dnl/qom)










































