Kenaikan PE CPO Tak Cukup
Rabu, 20 Jun 2007 18:32 WIB
Medan - Kebijakan pemerintah menaikkan pungutan ekspor (PE) Crude Palm Oli (CPO/minyak sawit mentah) dan turunannya dinilai tidak menyelesaikan persoalan kelangkaan minyak goreng di seluruh wilayah di Indonesia. Harga tetap membubung. Langkah menaikkan pajak yang semula dianggap sebagai solusi, nyatanya tidak efektif mengatasi persoalan."Kenaikan pajak patokan ekspor sebesar 6,5 persen itu, tidak akan berarti apa-apa mengingat kebutuhan dunia akan CPO demikian tinggi dan harga di pasaran dunia cenderung naik," jelas Nasril Bahar, anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi Industri, Perdagangan dan BUMN kepada wartawan di Medan, Rabu (20/6/2007)."Ekspor CPO akan terus meningkat dari Indonesia karena pengusaha tergiur keuntungan tinggi. Bagus untuk pendapatan di ABPN, tetapi masyarakat kecil tetap kesulitan," tambahnya.Nasril merujuk pada pergerakan harga CPO di pasaran dunia sejak April 2007, harga CPO dunia mengalami fluktuasi dari sekitar US$ 627 per ton menjadi sekitar US$ 740 per ton hingga US$ 850 per ton.Dengan kondisi ini, para pedagang tentu tetap membidik pasar ekspor. Sebab selisih dengan pajak ekspor tetap bisa diatasi dengan keuntungan dari harga di pasar internasional."Kenaikan itu, solusi yang emosional dan tidak berkorelasi langsung dengan menurunnya harga minyak goreng di pasaran. Lihat saja sekarang, minyak goreng masih menjadi barang langka," kata Nasril Bahar.Naiknya harga minyak goreng otomatis akan menaikkan harga bahan lainnya, terutama makanan. Sekarang saja sejumlah rumah makan sudah menaikkan harga hingga 35 persen. Produk lainnya juga diprediksi akan mengikut.Hal ini, kata Nasril, secara akumulatif menunjukkan kegagalan Program Stabilisasi Harga (PSH) yang dilanjutkan dengan Domestik Market Obligation (DMO) yang sudah dirancang pemerintah untuk menormalkan kebutuhan pasokan minyak goreng di dalam negeri."Jika persoalan ini tidak kunjung teratasi, maka minyak goreng akan menjadi masalah tersendiri dan bisa menjadi bom waktu. Lebaran tinggal beberapa bulan lagi, pada saat itu kebutuhan minyak goreng akan semakin meningkat," tandasnya.
(rul/qom)











































