BP Jual Gas Siberia ke Gazprom

BP Jual Gas Siberia ke Gazprom

- detikFinance
Sabtu, 23 Jun 2007 12:25 WIB
London - Perusahaan minyak Inggris, BP menjual kepemilikan sahamnya di ladang gas wilayah Siberia kepada perusahaan minyak Rusia, Gazprom. Moskow kini memang tengah memperketat kepemilikan sumber daya alamnya agar bisa dikelola sendiri.BP Rusia dengan perusahaannya TNK-BP, setuju menjual masyoritas sahamnya di ladang raksasa Kovykta itu kepada Gazprom antara US$ 700-900 juta."BP dan TNK-BP hari ini mengumumkan bahwa mereka sudah menandatangani nota kesepahaman untuk membuat aliansi strategis dengan raksasa gas Rusia, Gazprom. Untuk investasi bersama dalam jangka panjang dalam proyek energi atau melakukan pertukaran aset di seluruh dunia," demikian penjelasan British energy group seperti dilansir dari AFP, Sabtu (23/6/2007).Dalam syarat-syarat perjanjian itu disebutkan TNK-BP setuju menjual 62,89 persen sahamnya ke Gazprom yang nantinya akan memegang lisensi penambangan gas di ladang Kovykta di Siberia Timur.Penjualan ini dinilai sebagai langkah Rusia,-- yang merupakan produsen dan eksportir gas terbesar dunia,-- untuk mengalahkan perusahaan minyak asing dan mengontrol sendiri sumber daya alamnya.TNK-BP juga sudah setuju untuk menjual 50 persen kepemilikannya di East Siberian Gas Company (ESGCo).Wakil Direktur Eksekutif Gazprom, Alexander Medvedev mengatakan, penentuan harga akhir akan dilakukan dalam 90 hari ini."Masih ada perbedaan jumlah yang harus dibayar, kami akan terus melakukan negosiasi," kata Medvedev.Ladang gas Kovykta terletak sekitar 450 kilometer dari kota Irkutsk di Siberia Timur. Diperkiraan ladang gas ini memiliki sumber cadangan sekitar 2 triliun meter kubik gas.Keterlibatan Gazprom memang diharapkan menjadi solusi untuk memecahkan perselisihan di antara BP dan pemerintah Rusia, mengenai lisensi perusahaan Inggris itu dalam mengeksploitasi gas di Siberia.Pejabat Rusia berulang kali sudah mengancam akan menyingkirkan lisensi proyek tersebut agar gagal diproduksi. Rusia memang telah menegaskan untuk mengontrol penuh seluruh sumber daya alamnya. Sebelumnya perusahaan minyak patungan Inggris-Belanda, Shell juga terpaksa menjual Sakhalin-2 di bagian timur Rusia kepada Gazprom, setelah mendapat tekanan yang sangat kuat dari otoritas Rusia dengan tuduhan melakukan perusakan lingkungan. (ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads