RI-Australia Jajaki FTA
Senin, 25 Jun 2007 13:54 WIB
Jakarta - Indonesia dan Australia sedang menjajaki kerjasama Free Trade Area (FTA) Bilateral. Empat pakar pun ditunjuk untuk melakukan studi kelayakan.Keempat tokoh itu adalah Sudradjad Djiwandono, Noke Kiroyan, Philip Purnama dan Chatib Basri. Peran keempat ahli ini diperlukan untuk mengetahui sebatas mana keuntungan FTA bagi kedua negara.Demikian disampaikan Menteri Perdagangan Mari Pangestu dalam konferensi pers usai pertemuan bersama dengan Mendag Australia Warren Truss di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta, Senin (25/6/2007)."Awal tahun ini joint expert group yang terdiri dari wakil dunia usaha dan para pakar telah mempelajari peningkatan investasi dan perdagangan kedua negara untuk mengarah ke FTA Indonesia-Australia. Feasibility study ini sama halnya ketika kita melakukan EPA dengan Jepang," jelas Mari.Untuk itu, kedua menteri akan segera mengirim proposal ke kepala negara untuk minta persetujuan. Sementara Truss mengatakan, studi kelayakan normalnya memerlukan waktu 2 tahun, dan setelah itu akan dilakukan negosiasi. Bila telah mendapatkan kesepakatan, bisa langsung diteken.Dalam pertemuan tersebut, Australia dan Indonesia sepakat untuk memperkuat hubungan perdagangan dan investasi. Pertemuan tersebut juga diikuti oleh 35 CEO dan perwakilan bisnis dari sejumlah sektor industri di Australia yang tertarik untuk memperluas investasinya di Indonesia. Berikut daftar 11 investasi pengusaha Australia di Indonesia termasuk ekspansinya:1. Leighton Asia (Southern) telah memenangi dua proyek pertambangan yang baru di Indonesia senilai hampir US$700 juta. Kontrak itu terdiri dari US$610 juta selama dua tahun untuk pemberian jasa pertambangan di tambang batubara Wahana di Kalsel untuk PT Wahana Baratama Mining dan proyek pertambangan batu bara senilai US$70 juta dengan PT Multi Harapan di tambangnya di dekat Samarinda, Kaltim.2. Laing O'Rourke, dengan mitra usaha patungannya PT LOR Indonesia dan PT Petrosea Tbk, dalam aliansi dengan PT Indominco Mandiri, memenangi perancangan, pengadaan, rekayasa, konstruksi dan pelaksanaan karya perluasan terminal ekspor batu bara Bontang di Kalimantan dari kapasitas 8,6 juta ton per tahun saat ini menjadi kapasitas akhir 18,5 juta ton per tahun.3. Accor Premiere Vacation Club (APVC) dari Australia, pemuka industri kepemilikan-bersama, memperluas infrastruktur wisata kelas tingginya di Indonesia, dengan pembangunan resor kepemilikan-bersama Club Properties yang berbasis poin eksklusif di Nusa Dua, Bali.4. Airservices Australia, yang mengelola lebih dari 4 juta penerbangan per tahun dengan 47 juta penumpang, sedang membangun kegiatan kemitraan dengan Pemerintah Indonesia, dengan persetujuan navigasi bilateral senilai satu juta dollar.5. Arrow Energy, perusahaan Coal Bed Methane (penyulingan gas metana dari lapisan batu bara atau CBM) independen yang terkemuka dari Australia, membangun empat (4) proyek CBM senilai jutaan dollar di Sumatra Selatan dan Kalimantan, membantu Indonesia mengamankan kebutuhan akan gas.6. Cheetham Salt, anak perusahaan yang dimiliki penuh oleh Ridley Corporation Limited, produsen dan perusahaan pengilangan garam terbesar di Australia, mendirikan fasilitas kilang yang baru di Pelabuhan Cigading yang akan meningkatkan kapasitas menjadi 90,000 ton.7. Anak perusahaan bank Commonwealth Bank of Australia (CBA) di Indonesia, PT Bank Commonwealth (PTBC), sedang mengambil alih bank daerah dari Surabaya, PT ANK, suatu langkah untuk memperkuat sasaran strategis CBA untuk meningkatkan pelayanannya di sektor eceran dan UKM di Indonesia yang tumbuh dengan cepat.8. Rio Tinto, perusahaan pertambangan terdiversifikasi terkemuka di dunia, sedang melanjutkan negosiasinya dengan Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan Proyek Nikel Sulawesi senilai US$ 2 miliar.9. SAI Global, penyelenggara information bisnis dan jasa kepatuhan dan jaminan menghubungkan jasa bisnis-pemerintah Indonesia ke ekonomi global. 10. Newcrest Mining Limited, perusahaan tambang independen yang terdaftar secara umum dan berbasis di Australia, dengan tambang yang beroperasi di Australia dan di Gosowong, Pulau Halmahera, Indonesia, sedang mencari peluang untuk mengembangkan usahanya diluar Pulau Halmahera.11. Santos menjadi salah satu perusahaan yang aktif mencari migas di Indonesia, yang berproduksi di Maleo, dan tidak lama lagi di Oyong, dimana keduanya berada di Jawa Timur.
(qom/ir)











































