Garuda Bebas Bayar Utang 2 Bulan
Selasa, 26 Jun 2007 08:13 WIB
Jakarta - Kreditor PT Garuda Indonesia yang tergabung dalam utang Export Credit Agency (ECA), memberi keringanan kepada maskapai penerbangan nasional itu untuk tidak bayar utang pokok selama dua bulan.Pembebasan pembayaran kewajiban pokok selama dua bulan ini sebagai langkah awal proses restrukturisasi Garuda kepada kreditor secara komprehensif. Hal ini disampaikan oleh Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, yang selesai hingga Selasa dini hari (26/6/2007). "Saya sudah pergi ke Eropa berbicara dengan 3 pemerintah, Inggris, Perancis dan Jerman tentang utang Garuda dengan ECA yang selama ini membebani Garuda dan menggantung," jelasnya. Dia mengatakan bahwa hasil pembicaraan tersebut cukup positif, dimana ECA setuju untuk membekukan utang Garuda selama 2 bulan. "Selama 2 bulan ini kita tidak bayar apa-apa kecuali bunga, harusnya tanggal 23 atau 29 bulan ini kita harus bayar jumlah utang yang cukup besar. Dan sekarang Garuda sedang berbicara teknis detail proposal bagaimana menyelesaikan masalah dengan ECA dan Garuda telah mengirim proposal ke ECA," tuturnya. Lobi AirbusSelain itu, Garuda menurut Sofyan, juga telah bicara dengan Airbus dan hasilnya cukup positif. "Dengan demikian 2 kombinasi ini, mudah-mudahan Garuda akan mendapatkan pesawat baru dari Airbus, oleh sebab itu situasi Garuda mudah-mudahan akan sesuai harapan," imbuhnya. Sofyan juga menjelaskan privatisasi Garuda harus ditunda. Pasalnya, jika divestasi Garuda dilakukan saat ini, maka posisi pemerintah tidak akan diuntungkan dengan hal tersebut. "Kalau kita lakukan divestasi sekarang negara paling dapat 5 persen, tapi kalau kita restrukturiasi dulu kemudian 2009 atau 2010 kita go public atau melalui strategic investor, maka porsi pemerintah jauh lebih baik," jelasnya. Oleh karena itu menurutnya pemerintah akan minta letter of intent mengenai detail proposal restrukturisasi dari Garuda. "Sehingga pemerintah yakin bahwa uang yang ditaruh oleh DPR dan pemerintah sebesar Rp 1 triliun menjamin Garuda akan terbang tinggi lagi," jelasnya.
(dnl/ir)











































