Restrukturisasi BUMN Diutamakan Lewat Holding
Selasa, 26 Jun 2007 11:04 WIB
Jakarta - Model pembentukan perusahaan induk (holding) akan diutamakan dalam pembenahan atau restrukturisasi perusahaan BUMN ketimbang merger, divestasi atau likuidasi. Hal ini dikatakan oleh Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, yang berakhir hingga Selasa dinihari (26/6/2007)."Kebijakan restrukturisasi merupakan komitmen kita dan saya akan mempercepat untuk restrukturisasi BUMN di tahun ini. Cara yang akan dilakukan tentu kita harus konsolidasi dalam holding," jelasnya."Sehingga dengan demikian jumlah BUMN yang ditangani oleh Kantor Kementerian Negara BUMN akan lebih sedikit. Contohnya seperti perkebunan dimana kita intensif untuk dijadikan holding tanpa menghilangkan jumlahnya yang sebanyak 14 buah," tambah Sofyan.Nantinya jika dibentuk holding, maka wewenang akan diberikan kepada direksi holding tersebut. "Kita akan cari CEO yang bagus dan kita berikan key performance indicator (KPI) dan kemudian kita monitor, sehingga nanti urusan dengan anak usahanya akan langsung di deal/i> oleh holding," ujar Sofyan."Demikian juga dengan BUMN karya kita punya 14 buah dan ini terlalu banyak, nah akan kita konsolidasikan dan diharapkan dalam waktu yang singkat ini tinggal menjadi 5," paparnya. Sofyan juga mengatakan bahwa untuk BUMN pupuk akan dijadikan bentuk holding yang akan menjadi petrochemical industry. "Kita akan jadikan pupuk sebagai holding beneran bukan holding-holding-an seperti sekarang, untuk kawasan berikat kita lihat untuk apa dipertahankan, lebih baik dikonsolidasikan," paparnya. Jadi menurutnya dengan demikian BUMN diharapkan akan menjadi lebih sedikit sehingga fleksibilitas menjadi lebih lebar. "Yang penting kita cari best CEO untuk men-drive holding tersebut," tambahnya.Pemerintah berencana menciutkan jumlah BUMN menjadi kurang dari 100 BUMN terkait kebijakan restrukturisasi BUMN mulai tahun ini.
(dnl/ir)











































