Dirjen Pajak Vs Asumsi Makro
Selasa, 26 Jun 2007 12:25 WIB
Jakarta - Siapa bilang indikator makro ekonomi yang membaik akan menyenangkan semua orang? Tanya saja ke Dirjen Pajak Darmin Nasution dan anak buahnya. Hampir dipastikan mereka tidak menyukainya. "Jadi ada beberapa indikator makro yang dimata orang lain bagus, tapi kalau dimata orang pajak kurang bagus," tegas Darmin.Ia menyampaikan hal itu dalam jumpa pers usai peresmian kantor pelayanan pajak (KPP) Pratama di Jalan TB Simatupang No 29, Jakarta Selatan, Selasa (26/6/2007).Darmin menjelaskan, beberapa indikator makro yang membaik bisa mengurangi penerimaan pajak. Misalnya saja penurunan laju inflasi yang bisa mengurangi pertambahan setoran PPN. Juga penurunan suku bunga ynag menyebabkan PPh final untuk dana pihak ketiga perbankan turun. Termasuk juga penguatan kurs rupiah terhadap dolar AS.Pria berkacamata ini pun menganalogikan orang pajak dengan perbaikan asumsi makro sebagai tukang es dan tukang payung yang berjualan di pasar. Tukang es menginginkan kemarau terus agar dagangan laku terus, namun tukang payung justru menginginkan agar hujan terus turun.Penurunan Tarif PPhMengenai penurunan tarif pajak penghasilan (PPh) seperti diusulkan Fraksi PAN, Darmin mengatakan bahwa usulan itu sudah dimasukkan dalam amandemen UU PPh yang akan segera dibahas DPR."Kita sepakat untuk menurunkan tarif, tapi persoalannya ya seberapa besar penurunan tarif itu," ungkap Darmin.Ia mencontohkan, tarif PPh saat ini sekitar 30 persen, bisa saja turun menjadi 25 persen. "Tapi bagaimana hasilnya, tunggu saja," tambahnya.
(qom/ir)











































