Harga Terigu Melonjak, Produsen Puasa Iklan
Minggu, 01 Jul 2007 12:20 WIB
Jakarta - Berbagai iklan terigu kini jarang terlihat wara-wiri di layar kaca. Ini terjadi sebagai imbas dari kenaikan gandum yang melonjak hingga 50 persen.Sejak Juli 2006, harga baku gandum dunia mengalami kenaikan hingga 50 persen dibanding Juli 2007. Hal ini berimbas pada kenaikan harga terigu.Dengan kondisi daya beli yang masih lemah, produsen terigu dalam negeri hanya bisa menaikan harga terigunya maksimal 20 persen. Mereka pun terpaksa melakukan efisiensi, salah satunya meniadakan belanja iklan.Demikian dikatakan Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Lopies saat dihubungi detikfinance, Jakarta, Minggu (1/7/2007).Ratna menjelaskan, Indonesia selama ini mengimpor 100 persen kebutuhan gandum. Dengan harga gandum dunia yang sampai naik dua kali lipat, ini sempat memusingkan produsen.Pada 2006, harga gandum masih 190 dollar AS per metrik ton. Kini harganya sudah menembus US$ 300 per metrik ton, yang merupakan harga tertinggi dalam 10 tahun terakhir.Kenaikan harga gandum dunia ini dipicu oleh bertambahnya permintaan gandum untuk bioenergi. Selama ini, gandum hanya dipergunakan untuk boga dan pakan ternak. Inilah yang membuat produsen tepung terigu yang 90 persen biaya produksinya untuk mengimpor gandum harus putar otak untuk mengurangi biaya produksi."Harga tepung terigu dalam negeri sudah naik 20 persen dibanding Juli 2006 yang seharga Rp 76.000 per sak, kini seharga Rp 95 ribu persak. Tapi kenaikan ini tidak setinggi harga bahan baku gandum," jelas Ratna."Kebutuhan terigu dalam negeri rata-rata 3,6juta permtahun, di tahun ini diperkirakan konsumsi naik 5-6 persen," tambahnya.Selama ini produsen tepung terigu di Indonesia sangat bergantung pada gandum Australia. Kini mereka mulai melakukan diversifikasi tujuan impor gandum yakni dari Eropa, Ukraina dan Rusia.
(arn/ana)











































