Ekspor Pensil RI ke Mesir Terhadang Transhipment
Selasa, 03 Jul 2007 13:38 WIB
Jakarta - Lagi-lagi transhipment produk Cina menghadang ekspor Indonesia. Ekspor alat tulis pensil Indonesia ke Mesir mengalami hambatan setelah ditemukan adanya transhipment pensil dari Cina. Surat Keterangan Asal (SKA) barang dipalsukan, sehingga seolah-olah pensil Cina itu berasal dari Indonesia. Akibatnya Indonesia dikenakan bea masuk anti dumping (BMAD) oleh Mesir sebesar US$ 3 per gross atau BMAD 5 persen. Hal ini jelas sangat merugikan Indonesia karena pengusaha Indonesia terkena tudingan dumping.Saat ini 3 perusahaan yang ekspor alat tulis ke Mesir yakni PT Kencana Mandiri Jaya, PT Pana Color, dan PT Maknawi Jaya.Hal tersebut disampaikan Direktur Industri Aneka Departemen Perindustrian Nugraha Sukmawijaya di sela pameran peralatan sekolah dan alat pendidikan, di Lobby Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (3/7/2007)."Mesir memberi fasilitas impor dari negara-negara Islam, sehingga impor dari Indonesia diberi kemudahan, makanya ketika diketahui SKA bodong, Indonesia terkena tambahan bea masuk, karena yang terjadi seolah-olah barang tersebut dari Indonesia padahal dari Cina," ujarnya.Menurutnya, Depdag sebagai instansi yang mengeluarkan SKA perlu menyelidiki apakah SKA tersebut benar dikeluarkan oleh instansi di Indonesia. "Setelah dicek, memberikan laporan resmi ke negeri Mesir. untuk menjelaskan posisi Indonesia sebagai korban. Karena dampaknya negara tujuan ekspor kita menjadi hati-hati," ujarnya.Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka (ILMTA) Ansari Bukhari menyatakan produk alat tulis Indonesia memiliki daya saing dari serbuan produk Cina yang murah."Kita cukup berdaya saing lah dengan Cina karena bahan baku juga dari sini sehingga kita tidak khawatir industri ini akan kesulitan. Sampai sekarang kita belum menermia keluhan sulitnya bahan baku untuk alat tulis," ujarnya.Ekspor pensil RI saat ini mencapai sekitar US$ 40 juta, sementara mainan pendidikan mencapai US$ 160 juta. Negara tujuan ekspor alat tulis yang paling besar adalah AS, sementara negara tujuan impor utama adalah Jerman.Industri alat tulis di Indonesia sebagai besar atau 60 persennya merupakan penanaman modal asing (PMA), sisanya penanaman modal dalam negeri.Untuk industri kertas pertumbuhannya mencapai 2,79 persen. Produksi industri kertas pada tahun 2005 mencapai 7,7 juta ton, sementara kebutuhan kertas dalam negeri mencapai 3,96 persen per tahun, pada tahun 2005 kebutuhan kertas mencapai 5,6 juta ton.
(ddn/qom)











































