Program Konversi Elpiji
Siap-siap Minyak Tanah Langka!
Rabu, 04 Jul 2007 14:05 WIB
Jakarta - Kelangkaan minyak tanah di beberapa daerah merupakan dampak dari program konversi elpiji yang dicanangkan PT Pertamina (persero). Jadi, tak perlu heran jika minyak tanah bersubsidi akan hilang. Hal tersebut disampaikan Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya ketika dihubungi detikFinance, Rabu (4/7/2007). Hanung menyatakan hal itu menanggapi langkanya minyak tanah di beberapa daerah di Jakarta.Pertamina menduga kelangkaan minyak tanah terjadi karena tarik-menarik suplai minyak tanah bersubsidi di daerah terkonversi dan belum terkonversi.Selanjutnya, Pertamina akan menarik 100 persen persediaan minyak tanah bersubsidi di daerah target program konversi. Jika pun ada minyak tanah, minyak tanah itu bukan minyak tanah bersubsidi, artinya harganya mencapai Rp 5.926 per liter di depo Pertamina. Harga tersebut bisa lebih tinggi di tingkat konsumen.Hanung menjelaskan jika ada 1 kelurahan yang dikonversi minyak tanahnya, maka 100 persen minyak tanah ditarik meskipun masih ada sebagian masyarakat yang membutuhkannya.Misalkan di 1 kelurahan ada program konversi, 100 persen minyak tanahnya akan ditarik oleh Pertamina. Untuk warga yang belum mendapat tabung gas atau ada yang masih keukeuh memakai minyak tanah, maka Pertamina menyediakan minyak tanah non subsidi."Ini agar menjamin pemerintah tidak dobel subsidinya. Tapi karena yang disediakan adalah minyak tanah non subsidi, mereka mencari yang bersubsidi melirik ke kelurahan sebelah ternyata ada yang bersubsidi," ujarnya. Dengan demikian, pemilik pangkalan di daerah target konversi akan mencari minyak tanah didaerah yang bukan target konversi. "Ini sebenarnya hal yang biasa, dan akan sering terjadi dalam program konversi ini. Ini akan terhenti kalau semua minyak tanah sudah ditarik," ujarnya.Pertamina akan berupaya sesegera mungkin untuk menyelesaikan program konversi minyak tanah ke elpiji. Hanung mengakui Pertamina bukan kewalahan dalam menyelesaikan konversi, tapi terkendala masalah logistik saja."Karena dalam satu hari, kita harus mendistribusikan 15.000 paket konversi (kompor, tabung, dan selang) di Jabodetabek. Misalkan satu hari kerjanya 10 jam, kebayang tidak membagikan 15.000 dalam 10 jam? Makanya harus ada schedule yang ketat. Tapi kita optimis lancar," ujarnya.Program konversi minyak tanah ke elpiji ini ditujukan untuk mengurangi besarnya subsidi BBM. Program ini mulai dicanangkan tahun 2006.
(ddn/qom)











































