Problema Klasik Minyak Tanah

Problema Klasik Minyak Tanah

- detikFinance
Jumat, 06 Jul 2007 13:36 WIB
Jakarta - Kelangkaan minyak tanah yang terjadi kali ini disebabkan karena masalah klasik, yaitu perbedaan antara harga keekonomian dan harga eceran. Dirut Pertamina Ari Soemarno menyatakan, saat ini selisih kedua harga tersebut mencapai lebih dari Rp 3.000. "Ini problem klasik. Sekarang harga keekonomian yang untuk industri sudah diatas Rp 6.000, sedangkan harga eceran (subsidi) masih dibawah Rp 3.000," ujarnya usai salat Jumat di kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Jumat (6/7/2007). Dengan perbedaan harga yang besar itu, menjadikan minyak tanah sebagai produk yang rawan penyalahgunaan. Minyak tanah (bersubsidi) yang seharusnya diperuntukan bagi masyarakat jadi rawan disabet untuk industri. Ari juga mengeluhkan kurangnya pengawasan yang dilakukan BPH Migas sebagai pengatur sektor hilir. "Jangan dituduh suplainya kurang. Minyak tanah itu, berapapun dipasok pasti habis," tegasnya. Jadi Pertamina tetap bersikukuh hanya mendistribusikan minyak tanah sesuai kuota tahun ini, yaitu 9,9 juta kiloliter. (lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads