Indonesia Impor 100% Kapas
Senin, 09 Jul 2007 13:35 WIB
Jakarta - Indonesia ternyata harus mengimpor 100 persen kebutuhan kapasnya yang merupakan bahan baku produk tekstil. Kapas terbesar didatangkan dari Australia.Indonesia belum mampu produksi kapas yang optimal, meskipun tekstil adalah ekspor non migas terbesar."Kapas kita impor semua. Indonesia merupakan pasar kapas Australia kedua setelah Cina yang 36 persen, porsi impor kita 24 persen dari produksi mereka," ujar Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin, Ansari Bukhari di acara Australian Cotton Shippers Association di Hotel Shangri-la, Jakarta, Senin (9/7/2007).Indonesia sebenarnya telah berupaya mengurangi ketergantungan impor kapas dengan membudidayakan kapas di Sulawesi Selatan.Sayangnya, langkah pemerintah melalui Departemen Pertanian untuk memproduksi kapas di Sulawesi Selatan masih menghadapi kendala. Masalah tersebut seputar ketidakcocokan iklim dan keterbatasan teknologi. Akibatnya, produksi hanya mencapai 0,01 persen dari kebutuhan per tahun yang mencapai 700 ribu ton.Ansari menjelaskan impor dari Australia per tahunnya sebanyak 140 ribu ton. Australia dipilih karena kualitasnya yang baik dibanding produsen kapas lainnya seperti Afrika."Akibat ketergantungan ini harga kapas Australia mengalami kenaikan menjadi US$ 70 sen per pound, sedangkan harga kapas Afrika maupun Brazil lebih murah US$ 4 sen," kata Ansari."Kenaikan harga kapas ini menyusul kekeringan yang melanda Australia sejak akhir tahun lalu, sehingga dari produksi 3 juta ball tahun ini Australia hanya memproduksi satu juta ball," jelasnya.
(arn/ir)











































