Pabrik Tekstil Tinggalkan Bahan Baku Rayon
Senin, 09 Jul 2007 14:15 WIB
Jakarta -
Perusahaan tekstil ramai-ramai mulai mengganti penggunaan bahan baku dari rayon ke kapas. Bahan baku rayon ditinggalkan karena harganya kian mencekik.Rayon merupakan salah satu bahan baku yang paling banyak digunakan untuk tekstil di Indonesia. Bahan baku rayon juga lebih mudah didapatkan di dalam negeri ketimbang kapas yang harus diimpor. "Kalau impor rayon kena PPN 10 persen, bea masuk 2,5 persen dan cukai 5 persen sehingga meskipun di dalam negeri harga naik dari US$ 1,85 per kg menjadi US$ 2,2 per kg mereka tak punya pilihan lain," kata pengurus nasional Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Sunarjaya.Hal itu disampaikan Sunarjaya di acara Australian Cotton Shippers Association di Hotel Shangri-la, Jakarta, Senin (9/7/2007).Sunarjaya memperkirakan pada kuartal keempat tahun ini dan awal tahun 2008 permintaan kapas meningkat karena ada masalah pasokan rayon. Saat ini produsen rayon di Indonesia hanya ada dua yakni Indobharat perusahaan asal India dan South Pacific Viscouse asal Austria. Namun kapasitas produksi kedua perusahaan tersebut sudah tidak dapat mengimbangi permintaan lokal. Kedua produsen lebih memilih mengekspor produknya karena harga internasional lebih tinggi."Kenaikan harga ini yang tertinggi sejak 15 tahun, dari anggota API yang sebanyak 200 perusahaan sebagian besar mereka sudah menyiapkan untuk beralih bahan baku dari rayon ke kapas karena sudah tak sanggup lagi beli rayon," keluhnya.Ia menyayangkan tingginya kebutuhan rayon dalam negeri tidak diimbangi dengan masuknya pemain lokal di sektor ini karena takut akan tingginya biaya investasi.Ia juga mengkhawatirkan apabila kedua perusaan modal asing tersebut menghentikan pasokannya karena memilih untuk mengekspor."Saya harapkan pasar mulai jenuh sehingga beralih bahan bakunya. Sehingga kedepan harga rayon bisa turun," ungkap Sunarjaya.
(arn/ir)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































