Mobil Ramah Lingkungan Kurang Mendapat Perhatian
Minggu, 15 Jul 2007 16:00 WIB
Jakarta - Komitmen industri otomotif di tanah air untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan memasarkan mobil berbahan bakar ramah lingkungan patut diacungi jempol. Sayangnya hal tersebut tidak didukung pemerintah dengan memberikan insentif sistem perpajakan. Dampaknya para produsen mobil mengakui mobil ramah lingkungan seperti jenis hybrid masih sulit dipasarkan di Indonesia. Meski sebenarnya animo masyarakat sangat tinggi terhadap mobil jenis ini, namun dengan pajak yang tinggi membuat harga jual mobil menjadi sangat mahal.Selain harga, kendala lain yang menjegal masuknya mobil hybrid ke pasar lokal adalah teknologi yang mahal, pajak, dan kesiapan infrastruktur seperti kualitas bensin yang masih buruk. Padahal mobil hybrid yang merupakan gabungan mesin listrik dan mesin biasa, jauh lebih hemat dan ramah lingkungan."Permintaan pajak barang mewah (PPnBm) dan bea masuk mobil jenis hybrid dibebaskan atau ditanggung pemerintah sudah kami sampaikan ke pemerintah sejak beberapa tahun lalu. Saat ini PPnBm jenis itu masih 40-60 persen dan bea masuk 40 persen, harga jualnya jadi mahal sekali," ungkap Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Bambang Trisulo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Minggu 15/7/2007).Menurut Bambang, permintaan itu sudah pernah dilayangkan kepada Menteri Perindustrian dan Menteri Lingkungan Hidup dengan harapan permintaan itu diteruskan ke Menteri Keuangan. Namun hingga kini usulan itu belum pernah ditanggapi."Kami ingin lingkungan menjadi lebih sehat, itu tercermin dari tiga kali pameran mobil Gaikindo selalu mengusung tema environment," ujar Bambang.General Manager and Sales Marketing PT Honda Prospect Motor, Jonfis Fandy mengatakan, pihaknya siap memasarkan mobil hybrid melihat animo masyarakat yang tinggi.Namun dia mengeluhkan belum adanya sistem perpajakan yang jelas bagi kendaraan hybrid. Sistem perpajakan tersebut dipakai untuk mengkalkulasi harga mobil hybrid yang akan dipasarkan di Indonesia.Jonfis mengeluhkan ucapan seorang pejabat yang mengatakan mobil hybrid bisa dipajaki lebih tinggi. Pejabat tersebut, ungkap Jonfis, mengatakan, karena hybrid memiliki dua mesin, maka pajaknya akan dikalikan dua saja. Presdir PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor Fumio Kuwayama, yang merupakan produsen truk Mitusubishi Fuso, mengatakan, kendala untuk memasukkan mobil hybrid di Indonesia adalah masalah harga yang lebih tinggi karena teknologinya masih mahal."Di Jepang saja, harga mobil Fuso Eco Hybrid lebih mahal 30 persen dibanding mobil berteknologi normal," kata Fumio.Demikian pengakuan sejumlah produsen mobil hybrid seperti Mitsubishi Fuso, Daihatsu dan Honda, yang memamerkan mobilnya di The 14th Indonesian International Motor Show (IIMS) yang digelar Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) setahun lalu. Namun hingga saat ini belum ada langkah konkret pemerintah menanggapi keluhan ini.Padahal pada saat itu Menteri Perindustrian Fahmi Idris berharap dipamerkannya mobil ramah lingkungan di IIMS menjadi motivator semakin berkembangnya mobil ramah lingkungan."Diharapkan pameran ini dapat mendorong pengembangan industri kendaraan bermotor yang hemat energi di Indonesia seperti mobil kecil, mobil hybrid dan kendaraan berbahan bakar alternatif seperti biodiesel dan gasohol serta bahan bakar alternatif lainnya yang berkembang di dunia," kata Fahmi setahun lalu.Teknologi hybrid, berdasarkan pengakuan Presiden Direktur Toyota Astra Motor Jhonny Dharmawan saat audiensi dengan komisi VII DPR RI memang mahal, akibatnya harga mobil yang menggunakan teknologi hybrid jadi mahal, apalagi jika ditambah dengan pajak barang mewah. Diperkirakan harga mobil hybrid berkisar Rp 450 juta, padahal harga dasar mobil hybrid sebenarnya hanya berkisar Rp 250 juta. Tapi karena ditambah dengan pajak bea masuk, serta pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang, harga mobil hybrid yang saat ini baru diproduksi di luar negeri jadi melonjak tinggi.Mobil hybrid, kata dia, saat ini belum bisa memenuhi skala ekonomis untuk diproduksi di dalam negeri. Apabila minimal 1.000 unit bisa terjual dalam sebulan, maka mobil ini baru dapat diproduksi lokal.Maraknya pengembangan mobil hybrid dan bahan bakar alternatif di Indonesia juga menjadi perhatian Organization des-Internationale Constructor de Automotive (OICA) "Saya bangga di Indonesia telah memulai peggunaan bahan bakar biodiesel ataupun jarak. Ini penting karena produsen mobil Eropa sudah meluncurkan mobil jenis ini sebanyak 10 persen. Indonesia punya kerangka bagus untuk melakukan hal yang sama," tutur Bernd Gottschalk, Ketua OICA Hal itu disampaikan Bernd, dalam acara The 2nd International Automotive Conference yang bertema 'Indonesian Automotive Industry and The Global Market Challenge' beberapa waktu lalu. Namun karena masih sedikitnya produsen yang memproduksi bahan bakar alternatif, menurut Bernd, perlu diberi insentif seperti di Jerman dan Amerka Utara. Negara di wilayah itu memberikan keringanan pajak bagi kendaraan yang menggunakan bahan bakar campuran.
(arn/asy)











































