PTPN XI Lepas 9.790 Ton Gula
Rabu, 18 Jul 2007 13:27 WIB
Surabaya - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI bersama petani mitra binaannya kembali melepas gula hasil giling tahun 2007. Jumlahnya kali ini mencapai 9.790 ton, terdiri dari 7.790 ton milik petani dan 2.000 ton milik PTPN XI sendiri.Harga terbentuk Rp 5.167 per kilogram untuk gula produksi pabrik gula di wilayah Pasuruan ke timur dan Rp 5.217 untuk wilayah Madiun. Dengan demikian, harga tersebut naik sedikit dibanding lelang 2 minggu sebelumnya yang mencapai Rp 5.030 hingga Rp 5.065 per kilogram."Isu sragnasi dalam kenaikan rendemen akibat pergeseran iklim secara global, yang berimbas terhadap pencapaian produktivitas gula, khususnya bagi pabrik gula di Jawa tampaknya turut berdampak terhadap terbentuknya harga," kata Corporate Secretary PTPN XI Adig Suwandi, Rabu (18/7/2007).Dalam mekanisme pasar, kata dia, harga merupakan fungsi antara penawaran dan permintaan. Ketika jumlah barang ditawarkan lebih sedikit dibanding permintaan pasar, saat itulah harga terkerek naik. Sebaliknya, saat jumlah barang ditawarkan lebih banyak, harga otomatis akan turun.Secara umum, rendemen dibentuk di kebun tebu melalui aktivitas fotosintesis di daun dengan bantuan radiasi matahari, kemudian hasil-hasilnya ditranslokasikan ke seluruh batang tebu. Fungsi pabrik adalah mengambil nira atau material mengandung gula dari batang tebu melalui penggilingan dan berbagai aktivitas kimia lain hingga terbentuk kristal.Hujan di musim kemarau yang masih turun di sejumlah wilayah kerja pabrik gula, jelas berdampak terhadap terbentuknya rendemen. Pabrik gula dan petani sendiri telah melakukan berbagai upaya teknis ke arah penguatan produksi. Dengan ekspektasi dampak yang ditimbulkan pergeseran iklim tidak terlalu besar terhadap penurunan rendemen, bahkan kemungkin produksi masih meningkat.Namun demikian yang perlu dicermati sekarang adalah kemungkinan merembesnya gula rafinasi yang seharusnya hanya untuk bahan baku industri makanan dan minuman ke pasar gula konsumsi. Harga gula dunia yang relatif murah dan berada pada kisaran US$ 320-USD 325 per ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk premium dan biaya pengapalan) menjadi salah satu pemicunya.Tahun lalu, jelas Adig, harga gula dunia berada pada kisaran US$ 500 per ton. Keberhasilan panen sejumlah negara menjadi pemicu melimpahnya produksi gula. Misalnya, India yang biasanya impor, kini masih kelebihan pasok dan beralih status menjadi pengekspor.Dalam situasi demikian, industri makanan dan minuman tergoda untuk mengimpor langsung gula rafinasi dibanding memanfaatkan produk dalam negeri yang berbahan baku raw sugar impor. Adanya gula rafinasi produk dalam negeri yang tidak terserap industri makanan dan minuman, sama halnya surplus gula rafinasi eks impor, berpotensi masuk ke pasar gula konsumsi."Ujung-ujungnya adalah jatuhnya harga gula lokal berbahan baku tebu, baik milik petani maupun pabrik gula. Kondisi inilah yang harus dicegah agar iklim pergulaan yang relatif kondusif tidak bergejolak," tambahnya.
(fat/mar)











































