'Merpati Ayo Terbang Tinggi'
Jumat, 20 Jul 2007 17:13 WIB
Jakarta - Kepak sayap PT Merpati Nusantara Airlines yang terpuruk sejak terkena krisis 1999 diharapkan bisa cepat pulih. Dengan alasan itu, Kementerian BUMN kembali mempertahankan Hotasi Nababan sebagai Dirut Merpati. Hotasi yang telah duduk di kursi dirut sejak tahun 2002 dinilai paling mengetahui proses restrukturisasi utang Merpati, sehingga pemerintah berhak mempertahankannya di posisi dirut."Waktu dia jadi dirut pertama kali, saya pernah bilang enggak salah pilih Merpati. Tapi saya percaya kok sama Hotasi. Jadi ayo Merpati terbang tinggi, jangan seperti merpati yang memelas," kata Menneg BUMN Sofyan Djalil.Hal itu diungkapkan Sofyan dalam sambutannya di acara pelantikan direksi dan komisaris 18 perusahaan BUMN, di kantor kementerian BUMN, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (20/7/2007).Sofyan juga berharap Merpati bisa segera melewati masa-masa kritis ini setelah melakukan restrukturisasi dengan ditunjuknya kembali Hotasi. "Merpati kan dalam kondisi yang kritis, kalau restrukrurisasi tidak diteruskan maka Merpati akan sulit diharapkan. Sebaiknya yang paling tahu dan memulai proses restrukturisasi adalah Hotasi we give him a chance," tutur Sofyan."Saya pikir dia telah melewati masa-masa sulit di Merpati, tapi sekarang restrukrisasinya masih dalam proses yang belum selesai," lanjut Sofyan.Ketika ditanya apakah dipertahankannya Hotasi terkait kemenangan Merpati atas Thirdstone Aircraft Leasing Group (TALG), dalam kasus sewa uang pesawat yang telah dikeluarkan Merpati sebesar US$ 1 juta, Sofyan membantahnya.Menurut Sofyan sengketa Merpati dan TALG adalah kasus hukum biasa dalam dunia bisnis. "Itu persolan sengketa hukum saja, memang dari awal dia sudah mengatakan bahwa posisinya benar. Dari sisi hukum tidak ada masalah, dalam bisnis itu hal yang biasa selalu ada sengketa," jelas Sofyan.Merpati memiliki utang Rp 1,8 triliun yang sedang dalam proses negosiasi dengan para kreditornya baik kepada bank maupun utang unsecured.Merpati sendiri mendapat dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 450 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk revitalisasi armada Rp 150 miliar, restrukturisasi utang Rp 180 miliar dan biaya SDM Rp 120 miliar.Mengenai kabar kepindahan kantor operasional Merpati dari Jakarta ke Makassar karena alasan pasarnya di wilayah timur, Sofyan menyerahkannya kepada manajemen."Ooo, itu keputusan manajemen. Nanti kita lihat mana yang paling menguntungkan Merpati kedepan," ujarnya.
(ir/qom)











































