Deptan Kaji Importir MBM Asal AS

Deptan Kaji Importir MBM Asal AS

- detikFinance
Senin, 23 Jul 2007 14:14 WIB
Jakarta - Departemen Pertanian (Deptan) tengah mengkaji eksportir produsen tepung tulang dan tepung daging (meat and bone meal/MBM) asal Amerika Serikat (AS) yang akan memasok MBM untuk Indonesia.Demikian disampaikan Dirjen Peternakan Deptan Mathur Riady dalam konferensi pers di kantornya Gedung Departemen, Jalan Ragunan, Jakarta, Senin (23/7/2007)."Kita telah menerima permintaan dari lima eksportir produsen (lendering plant) diantaranya Cargil, Darling dan Conagra, pengajuan ini akan kita kaji risk analysis-nya, kalau memenuhi standar kita approve," ujarnya.Sebelumnya, menurut Mathur, Indonesia hanya mengimpor MBM dari Australia dan Selandia Baru. Indonesia mengimpor MBM hanya dari Australia dan Selandia Baru karena kedua negara itu bebas dari penyakit sapi gila. Perluasan negara importir MBM dilakukan karena Australia dan Selandia Baru telah menaikkan harga jual MBM menjadi US$ 400 juta per metrik ton. Mathur mengatakan selisih impor MBM dari AS lebih murah US$ 65-67 per metrik ton. Beberapa bulan lalu status sapi gila di AS juga dinaikkan dari wabah menjadi pengawasan. Permintaan MBM sebagai bahan baku pakan ternak di Indonesia sangat besar. Dari kapasitas pabrik pakan ternak yang ada sebesar 7 juta ton per tahun, kebutuhan MBM mencapai 350 ribu ton. Tahun 2006 impor MBM Indonesia mencapai 265 ribu ton.Mathur juga mengatakan Indonesia mengimpor MBM bukan karena tidak mampu memproduksi melainkan karena tidak tersedianya bahan baku. "Kenapa kita mesti impor, karena semuanya dari sapi kita makan semua, sampai tulang-tulangnya," kata Mathur.Dijelaskannya juga Deptan belum berencana memperluas impor MBM dari Kanada.Dalam kesempatan yang sama Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Ternak Budiarto Subijanto mengatakan, sangat mendukung perluasan sumber impor MBM ke AS karena harganya yang lebih kompetitif. "Dengan begini kita bisa mendapat jaminan suplai, rencana Deptan ini sangat positif, sehingga akan berdampak pada turunnya harga pakan ternak," kata Budiarto.Menurutnya, selama ini dari Australia hanya satu produsen yang mengimpor MBM ke Indonesia sehingga harganya menjadi mahal. (ard/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads