Sepak Terjang George Soros yang Dituding Jadi Dalang Krisis Ekonomi

Sepak Terjang George Soros yang Dituding Jadi Dalang Krisis Ekonomi

Anisa Indraini, Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Sabtu, 30 Agu 2025 12:12 WIB
George Soros
George Soros, pengusaha sekaligus investor yang dituding sebagai dalang krisis moneter 1998 Foto: Reuters
Jakarta -

George Soros merupakan sosok pengusaha dan investor sukses. Di balik itu, dirinya masih dituding sebagai dalang terjadinya krisis moneter 1998.

Melansir dari situs Ensiklopedia Britannica, Sabtu (30/8/2025), George Soros lahir di Budapest, Hongaria pada 12 Agustus 1930. Dirinya lahir dari keluarga yang cukup kaya, sehingga bisa mengenyam bangku pendidikan yang tidak banyak dirasakan anak-anak saat itu.

Meski begitu, masa kecilnya sebagai anak orang tajir mulai terusik akibat kedatangan Nazi di Hungaria pada tahun 1944. Sebab kala itu keluarganya yang merupakan keturunan Yahudi harus berpisah dan menggunakan dokumen palsu agar tidak dikirim ke kamp konsentrasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sampai pada 1947 keluarga George Soros pindah ke London. Di sana ia belajar filsafat di bawah bimbingan Karl Popper di London School of Economics, tetapi ia mengurungkan niatnya untuk menjadi seorang filsuf.

Tidak lama setelah itu, George Soros pertama kali bekerja di sektor keuangan saat dirinya bergabung dengan bank dagang London Singer & Friedlander sekitar tahun 1950-an. Barulah setelah itu pada 1956 ia pindah ke New York City, tempat ia pertama kali bekerja sebagai analis sekuritas.

ADVERTISEMENT

Singkat cerita, pada 1973 George Soros mendirikan Soros Fund (yang kemudian diubah menjadi Quantum Endowment Fund), sebuah dana lindung nilai yang kemudian melahirkan berbagai perusahaan terkait.

Keputusan investasinya yang berani, menyebabkan dana tersebut tumbuh pesat. Salah satunya saat dirinya dengan tepat meramalkan jatuhnya pasar saham dunia pada Oktober 1987, tetapi secara keliru meramalkan bahwa saham Jepang akan jatuh paling parah.

Paling menjadi perhatian banyak orang adalah saat George Soros melalui Quantum Fund miliknya menjual miliaran pound selama beberapa hari ketika pemerintah Inggris berencana mendevaluasi mata uangnya pada September 1992.

Akibat tindakannya ini, mata uang Inggris tersebut sempat jatuh sangat dalam dan dalam kesempatan itu George Soros membeli kembali pound dan memperoleh laba sekitar US$ 1 miliar. Bahkan kala itu dirinya mendapat julukan "orang yang menghancurkan Bank of England."

Tidak berhenti di sana, pada 1997 ia kembali berspekulasi dengan mata uang bath Thailand dan imbas tindakannya inilah yang disebut-sebut sebagai biang kerok terjadinya krisis moneter (krismon) di Asia pada 1998. Kondisi itu secara langsung juga berdampak sangat besar ke Indonesia.

Berdasarkan data Forbes, saat ini George Soros tercatat memiliki kekayaan bersih sebesar US$ 7,2 miliar atau setara dengan Rp 118,43 triliun (kurs Rp 16.449). Berkat kekayaannya itu, dirinya tercatat sebagai orang terkaya ke-507 di dunia.

(hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads