RI Tumpuan CPO Dunia

RI Tumpuan CPO Dunia

- detikFinance
Selasa, 24 Jul 2007 14:35 WIB
Jakarta - Kebutuhan CPO dunia terus naik yang bukan hanya untuk keperluan pangan tapi juga seiring dengan maraknya industri biofuel. Kebutuhan yang tinggi tersebut memaksa produksi sawit yang tinggi pula.Produksi sawit dunia kini hanya bisa berharap kenaikan produksi yang tinggi dari Indonesia karena potensi lahannya yang masih bisa diperluas. Sebaliknya produksi Malaysia sudah sulit memperluas lahannya."Dunia berharap Indonesia bisa menaikkan produksi 2-3 juta ton per tahun, mengingat Malaysia sudah tidak bisa memperluas lahan lagi," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun.Hal itu diungkapkan Derom disela-sela acara 'seminar nasional CPO, untuk pangan atau energi' di Hotel Sahid, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (24/7/2007). Produksi CPO Indonesia tahun ini dipastikan mencapai 17,4 juta ton dan tahun depan naik menjadi 18,5-18,6 juta ton. Sementara yang bisa dilakukan Malaysia adalah meningkatkan produktivitas dan efisiensi.Mengenai rencana pembatasan lahan sawit untuk grup perusahaan atau holding, Derom mengaku sangat setuju. Karena dengan penguasaan lahan oleh segelintir individu membuat pengusaha kecil tidak kebagian lahan."Tentu saya mendukung karena lahan terbatas, pengusaha kan ada yang besar ada yang kecil, dan semua harus dapat kesempatan," ujar Derom.PPN CPOMengenai usulan Departemen Pertanian (Deptan) yang ingin melakukan penghapusan pajak pertambahan nilai (PPN), Derom mengaku harus dicek dulu. Penhapusan PPN menurut Mentan Anton Apriantono, bisa meningkatkan pengembangan komoditas itu di sektor hilir. Namun Gapki khawatir penghapusan PPN CPO bukannya menjadi insentif malah akan merugikan. "Kalau ada usulan dari Mentan itu harus cek dulu apa benar merupakan suatu insentif kepada industri hilir, selama ini oleh industri hilir dianggap itu merupakan PPN masukan yang dapat dikreditkan kembali ketika membayar PPN keluar," katanya."Itu memberikan manfaat kepada produsen CPO. Dengan adanya PPN tersebut bisa dikreditkan ke PPN masukannya, bisa untuk beli pupuk bisa untuk beli spare part pabrik karena itu kan dibebankan kembali, kalau dihapus justru merugikan produsen," tuturnya. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads