Ekonomi RI di Mata Lee Kuan Yew
Selasa, 24 Jul 2007 15:34 WIB
Jakarta -
Sepuluh tahun setelah krisis, wajah perekonomian Indonesia sudah berubah. Bagaimana perekonomian Indonesia di mata mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew?Pastinya, menurut Lee yang kini menjabat sebagai Singapore Minister Mentor itu, perekonomian Indonesia sudah jauh lebih baik setelah didera krisis 10 tahun silam."Harga barang-barang komoditas di Indonesia sudah meningkat, seperti komoditi migas, makanan, apalagi komoditas kelapa sawit yang pada saat ini harganya di dunia internasional sedang tinggi," ujarnya.Hal itu disampaikan Lee yang tengah berkunjung ke Indonesia dalam acara Citibank Legacies of Leadership yang diadakan di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (24/7/2007). Jika disektor komoditas lebih baik, namun tidak di sektor manufaktur Indonesia. Menurut Lee, Indonesia masih terseok-seok di sektor manufaktur."Karena itu foreign direct investment (FDI) di sektor ini harus ditingkatkan, karena itulah yang dapat menggerakkan sektor manufaktur ini. Sseperti di Cina, dimana dalam satu tahun FDI ini bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk 10 sampai 15 juta orang," jelasnya. Akan tetapi untuk mengundang masuknya investasi di Indonesia, Lee mengatakan bahwa pemerintah harus membangun sarana infrastruktur yang baik. "Kalau infrastruktur bagus dan mendukung, maka investasi (FDI) akan meningkat dengan sendirinya, dan Indonesia harus belajar dari itu," jelas pria yang tetap semangat di usianya yang ke-74 ini. Saat salah seorang peserta acara yang bertanya kapankan Indonesia bisa berkembang seperti Singapura, Lee mengatakan itu butuh waktu yang cukup lama. Jika Indonesia ingin menyamai Singapura, maka harus ada pembenahan sistem secara keseluruhan. Tentang program Kawasan Ekonomi Khusus di Batam, Bintan dan Karimun, Lee menyarankan agar pemerintah Indonesia terus berupaya menjadikan kawasan tersebut menarik bagi investor. "Pemerintah harus membuat kawasan ini seatraktif mungkin sehingga menarik buat investor dan apa yang menjadi tujuan pemerintah yaitu untuk menggerakkan ekonomi di kawasan tersebut akan berhasil," jelasnya. Selain tentang perekonomian, masalah politik pun tak luput dari perhatian Lee. Menurutnya, Indonesia harus terus membangun sistem politik yang sehat. Hal ini bertujuan agar ada kondisi saling mendukung antara pemerintah dengan legislatif. Namun menurut Lee, yang terjadi di Indonesia saat ini adalah legislatif saling menjatuhkan sehingga apa yang menjadi tujuan pemerintah sulit tercapai. Ketika menjawab pertanyaan salah satu peserta tentang pemimpin politik di Indonesia, Lee mengatakan bahwa permasalahan di Indonesia adalah pemimpin politik itu haruslah dikenal oleh masyarakat luas. "Jadi bukan berdasarkan skill melainkan dia harus dikenal oleh banyak masyarakat Indonesia yang jumlahnya ratusan juta ini," ujarnya. "Jadi demokrasi yang sehat harus dibangun untuk dapat meningkatkan perekonomian di negara ini," tandasnya.
(dnl/qom)










































