Pengusaha Sepatu Bela Nike
Rabu, 25 Jul 2007 10:40 WIB
Jakarta - Pengusaha sepatu yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Industri Sepatu Indonesia (Aprisindo) mengaku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap pemutusan kontrak Nike Inc dengan dua perusahaan sepatu milik Hartati Murdaya. Alasannya, Nike tidak hanya memberikan order ke pabrik milik Hartati saja, namun juga sejumlah pabrik lain.Nike memutuskan kontraknya hingga akhir tahun ini dengan PT Hardaya Aneka Shoes Industry (HASI) dan PT Nagasaki Paramashoes Industry (NASA) yang buntutnya terhadap PHK 14 ribu karyawan. Namun Nike juga mengorder sepatu kepada 5 pabrik sepatu lain diluar HASI dan NASA."Pemerintah tidak bisa ikut campur dan Aprisindo juga tidak bisa ikut campur. Kita bukannya melakukan intervensi tapi bisa membantu, membantu pihak Nike-nya. Karena Nike punya 5 pabrik dimana 1 pabrik itu ada yang buruhnya 30 ribu orang. Totalnya kemungkinan sekitar 80 ribu," kata Ketua Umum Aprisindo Eddy Widjanarko.Hal itu diungkapkan Eddy disela-sela acara Workshop On Italian Footwear Technology di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (25/7/2007).Aprisindo mengaku belum memiliki solusi untuk kasus Nike dengan Hartati Murdaya. Terlebih kasus ini dipandang sebagai persoalan bisnis antar keduanya."Kita harapkan ada kompromi antara kedua belah pihak dan bagaimana pemerintah bisa memberikan solusi yang baik antara Hartati dan Nike," kata Eddy. Mengenai alasan Nike yang memutus kontrak karena kualitas sepatu HASI dan NASA yang rendah, Eddy punya jawaban diplomatis."Karena ini buatan manusia itu bisa saja terjadi, bisa saja dalam satu tahun itu berubah-ubah kadang baik kadang buruk, up and down. Memang seharusnya Nike menerangkan standar mutunya seperti apa karena di seluruh dunia standar mutu Nike itu sama," jelas Eddy. Mengenai keinginan Nike untuk mengalihkan order setelah putus dari HASI dan NASA, Eddy meminta agar perusahaan sepatu terbesar dunia itu tetap memilih perusahaan lokal. "Pabrik-pabrik yang sudah ada kapasitasnya masih idle itu bisa dikerjakan bersama dengan pihak asing. Karena standar mutu seperti Indonesia itu terbaik di dunia, kita sudah ekspor kemana-mana," tutur Eddy.
(ir/qom)











































