PLTU Suralaya Terancam Tak Dapat Tambahan Batubara
Jumat, 27 Jul 2007 12:59 WIB
Jakarta - Pemilihan pemasok batubara untuk PLTU Suralaya, Banten gagal karena harga yang ditawarkan peserta diatas Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Akibatnya, PLTU Suralaya terancam tidak mendapat tambahan pasokan batubara dengan kalori 5.100. GM PLTU Suralaya Bambang Susianto menyatakan, pihaknya kini tengah mengadukan masalah ini ke direksi dan komisaris PLN. "Saya sedang mencoba agar masalah ini diputuskan segera di Dewan Komisaris," katanya ketika dihubungi wartawan, Jumat (27/7/2007). Pada pemilihan tersebut, ada 49 peserta yang ikut. Namun semuanya menawarkan harga diatas HPS yang sebesar Rp 384 ribu per ton. "Paling murah yang ditawarkan adalah Rp 424 per ton," katanya. Tingginya harga batubara disebabkan banyaknya pengusaha yang memilih mengekspor batubara ketimbang dipasok untuk domestik. "Saya juga heran, mungkin karena harga di luar lagi bagus. Jadi mereka pada ekspor," lanjtunya. Ia berharap, pemerintah dapat turun tangan mengenai masalah ini sehingga pihaknya bisa membeli batubara sesuai harga yang ditawarkan peserta. "Iya, saya harap pemerintah bisa membantu dengan menaikkan subsidi ke PLN," ujarnya. Kebutuhan batubara untuk PLTU Suralaya sebenarnya didapat dari PTBA dengan volume 6,1 juta ton per tahun. Namun kini pasokan tersebut turun menjadi 5,1 juta ton per tahun. Kekurangan yang 1 juta itulah yang dicari. Kepastian batubara itu, menurut Bambang setidaknya harus ditandatangani Oktober tahun ini. Karena cadangan batubara saat ini hanya cukup sampai Januari 2008. "Sekarang sih cukup, tapi kira-kira Januari sudah mulai turun. Jadi paling tidak tiga bulan sebelumnya harus sudah tanda tangan," ujarnya. Sebelumnya pihak PLTU Suralaya sudah melakukan tender dua kali, namun hanya diikuti 2 peserta, yaitu Kideco dan Berrau.
(lih/qom)











































